Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lihatlah Tuhan lewat
seluruh realitas hidup.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Meragukan Eksistensi Tuhan
Sangat sering orang-orang yang masih meragukan eksistensi Tuhan itu bertanya, “Siapakah Tuhan?
Di mana Dia berada? Apakah Dia sungguh ada? Jika Dia sungguh ada, manakah wujud-Nya?”
Salahkah, jika masih banyak orang mengajukan pertanyaan seperti itu? Tidak! Mereka tidak bersalah, jika sebagai manusia mereka sungguh ingin melihat-Nya dengan mata kepala sendiri. Bukankah hal itu merupakan sebuah proses yang terus bergolak di dalam hati manusia?
Tentu secara manusiawi kita tidak pernah dapat melihatnya dengan mata kepala ini. Namun, secara nurani kita dapat melihat-Nya lewat mata iman kita. Itulah sebuah keyakinan. Credo!
“Engkau percaya, karena melihat Aku. Sungguh berbahagialah mereka yang tidak melihat, tapi percaya,” kata Yesus kepada Thomas.
Raja Ingin Melihat Tuhan
Seorang Raja sangat ingin bisa melihat Tuhan. Maka, diultimatumkan berupa ancaman kepada para bijaksanawan, jika mereka tidak mampu menunjukkan Tuhan kepadanya.
Di saat para bijaksanawan itu sedang berpikir keras, datanglah seorang penggembala domba dan menawarkan kepada Raja untuk membawanya ke padang rumput.
Setibanya di padang rumput, Raja itu dimintanya agar memandang matahari yang sedang bersinar.
“Apakah kamu berniat hendak membutakan mataku?”
“Tapi Tuanku,” kata penggembala itu, “Matahari hanyalah salah satu ciptaan Tuhan, gambaran diri Tuhan sendiri yang masih kurang terang. Jika Tuanku tidak bisa memandang matahari, bagaimana Tuanku bisa melihat Tuhan?”
(Willi Hoffsuemer)
1500 Cerita Bermakna
Kerinduan yang tak sampai
“Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai,” demikian seuntai peri bahasa kita. Manusia memiliki kebebasan mutlak untuk boleh meraih sesuatu yang diinginkannya. Tapi, apakah semua keinginan itu selalu dapat terwujud?
Bukankah tidak semua keinginan itu akan dapat tercapai dan terwujud? Ya, itulah sebuah keterbatasan. Itulah sifat dan hakiki dari segala sesuatu di atas bumi ini. Bukankah ada hal yang dengan mudah dapat diperoleh dan ada hal lainnya yang tidak mudah, bahkan tidak mungkin dapat diperoleh.
Prinsip dalam Beriman
Ada prinsip hidup, bahwa di dalam hal beriman itu dibutuhkan suatu pengertian atau pemahanan. Itu betul. Namun, prinsip itu tidak dapat diberlakukan pada semua hal.
Bukankah hal beriman dan berkeyakinan itu adalah sebuah misteri? Karena di dalam beriman itu dibutuhkan sikap batin berupa suatu kepercayaan tanpa pembuktian. Bahwa dalam beriman tidak dibutuhkan sikap rasionalitas, karena beriman adalah sebentuk sikap penyerahan diri secara total.
Kisah Santo Agustinus
Dalam konteks ini, saya menyodorkan sebuah cerita berupa tradisi, yakni kesaksian yang dialami oleh pujangga Santo Agustinus.
Di saat Santo Agustinus keras berpikir tentang misteri Allah Tritunggal, tampak olehnya seorang anak kecil yang sedang sibuk menimba air laut dengan mencidukkan tangannya dan dituangkannya ke dalam sebuah lubang.
Menyaksikan perkerjaan yang sia-sia itu, bertanyalah Santo Agustinus, “Hai anak, apa yang telah kau lakukan itu?”
“Saya hendak memasukan samudra itu ke dalam lubang ini.”
“Itu tidak mungkin, Nak. Itu hal yang sia-sia. Karena betapa luasnya laut ini. Bagaimana mungkin lubang yang sekecil ini dapat menampungnya?”
“Ya, sama seperti yang telah kau lakukan itu. Mana mungkin engkau dapat mengerti tentang misteri Allah Tritunggal lewat kepalamu yang kecil itu?”
Kepan Kita akan Melihat Tuhan
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Sabda Bahagia).
…
Kediri, 20 Maret 2025

