Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika dilanda stres berat, ia ingin bunuh diri, tapi takut mati.”
(Anonim)
Hidup Manusia dan Risikonya
“Hidup adalah suatu perjuangan,” (Vivere militare est), kata orang Latin. Bukankah hidup ini adalah sebuah risiko yang harus ditanggungkan kepada diri Anda sendiri? Untuk itu, Anda tidak perlu melarikan diri. Mengapa? Sekalipun Anda suka atau tidak, risiko itu pun dengan sendirinya akan tetap mendatangi Anda.
Ingin Bunuh Diri, tapi Takut Mati
Di suatu hari, ada warga di sebuah wilayah geger, karena ada kabar, bahwa salah seorang warga mereka, saat itu nekad berdiri di sebuah tebing terjal dan ingin bunuh diri.
Orang-orang mulai panik dan berusaha untuk membujuknya agar ia segera membatalkan niat konyolnya itu. Tapi, rupanya ia sudah sangat nekad untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan ia kian jauh menuruni tebing terjal itu. Maka, berbagai upaya segera dilakukan. Salah satunya ialah seorang pria pemberani di wilayah itu membuntutinya dan akhirnya ia mampu menangkapnya.
Setelah ditangkap, pria nekad itu terus memberontak dan tetap ingin menerjunkan dirinya lewat tebing itu. Tapi, ia tak berdaya, karena kedua tangannya telah dipegang oleh pria pemberani itu.
Sesampai di desa, warga berusaha untuk membuka genggaman tangannya yang selalu dikatupkannya. Eh, ternyata, ia menggenggam secarik kertas kecil yang bertuliskan, “Saya ingin bunuh diri, tapi saya takut mati.”
Melarikan Diri dari Sebuah Realitas
Hidup itu adalah sebuah kenyataan, ya, juga sebagai sebuah realitas. Hidup ini ternyata bukanlah sebuah mimpi malam. Jika itu adalah sebuah fakta, maka mau atau pun tidak, Anda harus menghadapinya.
Sesungguhnya, tidak sedikit orang yang sebenarnya ingin mengakhiri hidup ini, karena dililiti oleh aneka permasalahan hidup. Dampaknya, bahwa orang-orang mulai gelap mata. Mereka tidak tahu lagi yang harus dilakukan. Pikiran mereka kian buntu, karena disesaki oleh banyak permasalahan.
Ya, sampai akhirnya ada orang yang ingin bunuh diri, tapi ia masih takut mati.
Bencana Kemanusiaan
Fenomena unik ini tentu perlu dicermati secara mendalam dan saksama. Karena bukankah fenomena ini sudah menggambarkan sebuah kenyataan paling pahit yang tengah menggerogoti nurani para warga kita? Inilah yang dinamakan ‘penyakit sosial’ yang sudah mematikan akal sehat dan nurani umat manusia. Hal ini pun sudah dikategorikan sebagai sebuah bencana kemanusiaan, bukan?
Ini Tugas Besar Bersama
Lewat fenomena yang nyeleneh ini, hendaknya semua pihak perlu segera membuka diri dan untuk mencari solusi terbaik bersama. Baik pemerintah, swasta, dan badan sosial agar segera merapatkan barisan, turut menangani permasalahan kemanusiaan ini.
Karena inilah tugas besar kita bersama sebagai anak-anak dari sebuah bangsa besar yang berlandaskan pada azas peri kemanusiaan.
Mendengar dan menyaksikan peristiwa, bahwa ada sesama warga yang mau bunuh diri itu sungguh, sangatlah menyesakkan dada batin kita. Betapa malu rasa hati kita. Mengapa? Karena kita tidak sanggup memberi sepiring nasi kepada tetangga kita.
Saya masih sangat ingat kata-kata penyair Rendra, yang sempat dijuluki sebagai si burung merak itu, “Jangan bilang negeri ini makmur, jika ternyata ada tetanggamu yang sempat makan bangkai kucingnya.”
Wabah penyakit sosial juga sangat erat berkaitan dengan sikap beriman kita. Apa yang kaum beriman lakukan untuk sesamamu yang lapar?
Refleksi
“Siapakah sesamaku?”
“Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan,”
(Yesus Kristus)
Kediri, 16 Oktober 2025

