Oleh : Rio, Scj.
“Just be happy with your life.” Rio, Scj.
Menikah itu bukan ajang perlombaan, siapa yang duluan. Bukan pula umur yang jadi patokan. Sebelum memutuskan menikah itu butuh kesiapan mental. Menikah itu pilihan dan keputusan. Pernikahan itu tidak asal buru-buru, tidak pula tuntutan ortu. Atau takut, karena tidak laku. Menikahlah bila yakin dan mampu. Tidak asal dapat, tapi pilih yang tepat untuk mendampingi sampai akhir hayat.
Buka mata dan buka telinga, asal tidak buta oleh cinta. Cari tahu hal baik, juga sifat buruknya. Apakah Anda bisa atau tidak menerimanya. Jangan harap setelah menikah dengannya, dia akan mengubah sifat buruknya. Daripada gagal lebih baik terlambat menikah. Menikah itu mudah, tapi setia menjaga pernikahan itu yang susah.
Hidup itu tidak selamanya indah, tapi selalu ada berkah dan indah setiap harinya. Meski tidak mudah, kadang penuh luka, kecewa, dan derita. Tetaplah sadar dengan tiga hal ini:
Pertama, kita itu berharga. Meski hidup kadang penuh cobaan, luka, kecewa, derita, dan linangan air mata, tetaplah bahagia. Kita istimewa dan berharga. Kita layak bahagia. Berharganya kita bukan dari penilaian orang, komentar, atau nyinyiran. Meski hidup hancur, rumah tangga hancur, karier hancur, bisnis hancur, harga diri hancur, tapi di mata Tuhan kita tetap berharga dan istimewa. Karena kita ciptaan-Nya.
Kedua, jangan menyerah. Terus berjuang, berusaha, dan bertekun dalam doa. Terima luka dan derita itu dengan senyum, sukacita, dan ikhlas. Percayalah akan indah pada waktunya.
Ketiga, tetap tenang, jangan panik. Semua masalah itu selalu ada jalan ke luar. Setiap tangisan selalu tersedia sukacita, senyuman, dan syukur. Setiap usaha dan doa selalu ada anugrah dan berkah. Setiap luka, derita, dan kecewa selalu ada Tuhan yang setia. Setiap hati yang percaya selalu tersedia mujizat. Tetap teguh dalam Tuhan dengan iman, harapan, dan kasih. Karena indah rencana-Nya. Allah selalu memberi yang terbaik untuk kita.
Deo gratias.
Edo/Rio,ย Scj

