Tiba-tiba aku ingin jadi pemburu. Aku tidak mau berdiam diri tanpa berbuat apa-apa. Karena bagiku, membiarkan waktu berlalu secara percuma itu konyol dan sia-sia.
Jujur, menunggu waktu itu hal yang paling membosankan dan menyiksa jiwa. Bagiku bermalas-malasan itu membuat tubuh ini jadi ngilu-ngilu
dan sakit. Tapi dengan bekerja dan berdoa, niscaya kita jadi sehat lahir batin.
Beruntung, sejak remaja aku getol bekerja. Bahkan oleh karyawan, aku diberi predikat maniak kerja. Karena hidup untuk bekerja dan bekerja demi masa depan.
Kini keadaan telah jauh berbeda, dan berubah. Aku sungguh sadar-sesadarnya, bahwa semua itu ada masanya. Tapi usia yang menua itu tidak membuat aku diam menyerah untuk mengakui masaku telah lewat alias usai.
Aku lalu mencoba memutar ulang kembali perjalanan kewirausahaan yang aku tekuni, terutama target yang belum terwujud, yakni memberdayakan ekonomi umat.
Tantangan yang harus diwujudkan di senja usiaku. Aku juga tak peduli dengan olok-olok teman, bahwa aku mengejar ekspektasi dan cari cuan, sehingga lupa diri dan lupa umur!
Padahal aku ingin menyalurkan semangat berburu itu agar aku tidak memanjakan diri dalam kenyamanan. Aku di belakang layar, sedang pemburu yang sebenarnya adalah anak-anak muda, OMK misalnya. Aku ingin mewariskan pengalaman dan mengkomandoi mereka agar siap menghadapi persaingan zaman, dan mandiri.
Aku mempunyai banyak pelanggan UMKM, begitu pula usahawan di lingkungan Gereja. Anak-anak muda itu yang mengkoordinasi dan memasarkan hasil usaha UMKM itu lewat media sosial seperti IG, FB, atau WA.
Sungguh peluang dan tantangan yang menarik dan layak diwujud-nyatakan dalam kerja sama yang saling menguntungkan.
Semoga Tuhan memberkati.
Mas Redjo

