“Menyalurkan hobi itu baik, asal kita tidak lupa diri, waktu, dan bahkan melupakan keluarga.” -Mas Redjo
…
“Kau serius tidak mau menemani aku?” C menatap saya kurang percaya. Saya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Maaf, saya tidak memancing lagi. Meskipun alatnya kau pinjami,” kata saya tegas, dan mohon dipahami.
Kesadaran untuk berhenti mancing itu muncul, ketika anak saya jatuh dari motor. Saya tidak menanggapi telepon istri, karena mengikuti lomba mancing dengan hadiah yang wow… mobil Fortuner kebanggan keluarga!
Ternyata anak saya terluka cukup parah, dan harus dioperasi. Istri menegur saya yang dianggap tidak peduli dengan keadaan anak!
Saya diam mengakui salah. Istri yang tidak mempunyai cukup uang itu terpaksa meminjam ke tetangga untuk jaminan, de-pe di RS, karena anak harus segera dioperasi!
Kecelakaan anak itu menyadarkan saya agar tidak egois. Karena untuk mengikuti lomba mancing yang hadiahnya mobil Fortuner itu saya harus membayar Rp 15 juta/lapak!
Saking jengkel dan menyalahkan diri sendiri, semua alat pancing itu lalu saya hancurkan, dan saya buang.
Faktanya, jika ingin membeli mobil Fortuner itu secara kredit, saya dapat mengambil dari pengeluaran biaya mancing itu setiap bulan.
Tidak hanya itu, karena keranjingan dengan hobi mancing, usaha saya serahkan ke istri dan adik ipar. Saya asyik mancing dan tahu beresnya.
Kini, sobat saya minta ditemani mancing. Ia membiayai semua ongkos dan meminjamkan alatnya! Jika dituruti saya takut tergoda lagi dan kebablasan. Saya tidak tahu diri dan tidak belajar dari peristiwa kecelakaan anak. Tapi menolak sahabat?
“Sekali lagi sori, mohon dimaafkan. Saya sedang membenahi usaha yang anjlog dan lesu,” saya menarik nafas. “Kau mau memahami kan…?”
“Ya, sudah. Lain kali saja,” katanya mengalah. Ia pamit, meninggalkan saya dengan naik motor.
Saya menarik nafas panjang. Aneh, mood mancing yang selama ini mengganjal di dada itu seperti menggelundung jatuh entah ke mana.
Saya merasa plong, dan lega!
Matur nuwun, Gusti.
…
Mas Redjo

