Syalom Bapak. Saya tidak lihat Bapak. Duduk di mana? (Saya agak terlambat, parkir dulu). Sambil berjalan ke tempat parkir, dia mengulas ringkas topik homili tentang mukjizat. Bercerita tentang perempuan yang sudah 12 tahun pendarahan, tidak sembuh. Kuasa tabib tidak ada yang bisa menolongnya. Perempuan itu sembuh, karena energi Ilahi yang mengalir dari Yesus ke tubuhnya usai menjamah jubah Yesus, kata-Nya: “Imanmu telah menyelamatkanmu.” (Batin saya: hebat juga Bapak ini. Meringkas homili dengan alur yang runtut).
Tiba-tiba dia menarik tangan saya ke pinggir.
“Ada apa, Mas?” tanyaku.
“Jadi, arti mukjizat itu apa, Pak, tadi belum jelas?” katanya.
“Mas, kalau mau tahu lebih banyak tentang kekatolikan ada banyak info di google. Termasuk tentang mukjizat.”
“Begini Mas, mukjizat adalah kejadian atau peristiwa luar biasa atau di luar kebiasaan yang dilakukan Tuhan atau Allah atau kuasa Roh Tuhan dengan tujuan tertentu. Misalnya untuk meneguhkan iman umat terhadap tugas para utusan seperti Nabi, Rasul. Maka di akhir cerita tersebut Yesus bersabda: “jangan takut, percayalah!”
Dalam injil Yohanes mukjizat itu antara lain: ‘exorsisme’ (kuasa mengusir roh jahat), menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan memerintah alam.
(Dengan wajah serius dan setengah berbisik): “Oh, jadi, tidak terlambat ke gereja itu bukan mukjizat, kan?” (rupanya terlambat juga)
(Ha ha ha… agak keras saya tertawa)
“Yang tadi disebut dalam homili? Ya, bukanlah! Romo itu bercanda sambil mengingatkan kita, agar tidak terlambat. Mungkin Romo itu anyel, gereja baru sudah dibangun, sudah diberkati, sudah setahun lebih, hanya diminta datang tidak terlambat saja koq susah.”
Model begini bukan ‘humble bragging’. Istilah Jawanya ‘nyemoni’, nyindir halus.
Bagi saya, telunjuk ‘humble bragging’ itu terarah bukan ke orang lain, melainkan ke diri saya sendiri. Bak koreksi diri seberapa baik kualitas saya dalam berbuat baik.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

