“Ketika ketakutan menekan dan harapan terasa rapuh, Tuhan tetap mendengar jeritan iman dan menganugerahkan damai kepada mereka yang percaya.”
Allah mempertemukan kami dengan dua pribadi yang sangat berbeda, namun disatukan oleh satu kebutuhan yang sama: Yesus, Putra-Nya.
Yairus datang dengan terbuka, tersungkur di kaki Yesus, memohon demi anaknya yang sekarat. Seorang perempuan datang diam-diam, tersembunyi di tengah kerumunan, memikul penderitaan dua belas tahun lamanya. Yang satu terpandang, yang lain tersisih. Namun keduanya percaya bahwa hanya Yesuslah harapan mereka.
Putra-Mu tidak menolak salah satu pun. Ia menjawab iman yang berani diutarakan dan iman dalam hati yang gemetar. Ia berhenti bagi yang menyentuh jubah-Nya dengan penuh harap, dan Ia terus berjalan bersama dia, yang imannya diuji oleh penantian dan kabar duka.
Seperti Pemazmur, kami berseru, “Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan jawablah aku.”
Dalam Yesus, Engkau menjawab.
Kekudusan-Nya tidak tercemar oleh luka kami; justru belas kasih-Nya menyembuhkan. Kuasa kasih-Nya tidak berhenti, ketika maut seolah menang; Ia memanggil kami untuk bangkit dan hidup.
Ajarlah kami datang kepada Yesus apa adanya; takut namun percaya; dan lemah namun berharap agar kami boleh bersukacita dalam damai-Mu sekarang ini dan dituntun menuju kehidupan kekal. Amin.
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

