Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5: 36).
Yairus sedang bersedih, karena anaknya yang sakit dan hampir mati, datang kepada Yesus, mohon belas kasihan-Nya, dan mohon Yesus datang ke rumahnya untuk menjamah putrinya agar sembuh. Namun, di tengah jalan, keluarganya datang dan mengatakan, bahwa anaknya sudah mati dan tidak perlu lagi menyusahkan Yesus. Perkataan keluarganya itu mungkin mempengaruhi imannya, sehingga Yesus meneguhkan dia dan berkata, “Jangan takut, percaya saja!”
Yesus tidak membiarkan dia terhanyut dalam perasaannya ataupun tenggelam dalam keputusasaannya.
Demikian juga yang dikehendaki Yesus untuk kita. Ia mau agar kita tetap memiliki iman yang teguh, walaupun sepertinya permohonan kita mustahil untuk terwujud, ataupun banyak alasan lain yang mencoba menyurutkan iman kita.
Mari kita merenungkan, apakah kita sungguh beriman dan percaya kepada Tuhan dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup kita? Kalau belum, “Mari kita melakukannya dengan mata yang fokus, tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr 12: 2).
Sr. M. Francetta, P. Karm
Selasa, 04 Februari 2025
Ibr 12: 1-4 Mzm 22: 26-28.30-32 Mrk 5: 21-43
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

