| Red-Joss.com | “Terima kasih banyaķ pencerahan hari ini, Mas Jlitheng. Kami sedang silaturahmi ke tempat saudara muslim,” kata Bu Luciana P. merespon tulisan saya di grup WA.
Tepat sekali. Mewujudkan sikap Yesus menjawab doa wanita Kanaan seperti dalam Matius 15:28. “…besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.”
Dengan silaturahmi itu Ibu Lucy memberi kesaksian kepada saudara muslim, bahwa orang Katolik itu ‘ora cidro ing janji dan silaturahmi itu tanda hidup. Sesungguhnya Allah kita adalah Allah yang cinta semua manusia, apa pun agama dan masalahnya.
Kami plus anak dan cucu, selama 4 hari melakukan ziarah keluarga dimulai dari Teluk Betung, lewat Pringsewu, Lambao Gisting, menuju Karang Anyar, tempat Mbah Buyut sebagai tujuan utama. Di tempat itu kami merayakan ibadat sabda yang tujuannya memelihara persaudaraan. Hadir hampir 100 orang, dari 5 kota berbeda bergabung umat setempat. Intinya: Menghangatkan kembali relasi persaudaraan yang renggang oleh pandemi.
Ziarah keluarga kami pungkasi dengan berdoa di Gua Maria Padang Bulan, Pringsewu, membawa semua yang kami temui selama perjalanan, kepada Bunda Maria, dan mohon kekuatan untuk semua saudara agar setia memanggul salib sampai akhir.
Dalam ziarah keluarga itu, kami ikut merasakan jalan salib setiap keluarga yang kami kunjungi, dengan berbagai persoalan hidup mereka. Ada yang problem anak, masalah perkawinan, masalah sakit, kesedihan ditinggal istri, masalah kesetiaan menjadi orang Katolik, hingga masalah ekonomi.
Di atas semua itu, yang kami pegang erat adalah kita ini bersaudara dan berjuang untuk jangan sampai putus apa pun masalah kita.
Kuncinya: tetap tekun berdoa seperti wanita Kanaan yang berdoa untuk anaknya yang sakit. Yesus menjawabnya dengan “Ibu memiliki iman yang kuat. Karena itu anakmu sembuh.”
Ide ziarah keluarga ini datang dari Mbah Buyut Philipsia, namanya. Seorang ‘single parent’ sejak ketiga anaknya masih kecil, karena ditinggal suami ke surga. Hanya Tuhan dan bekerja itu andalannya.
Saling memberi kekuatan untuk berjalan dalam iman, kasih dan harapan, sampai akhir, itulah ujub Mbah Buyut mengumpulkan anak, cucu dan buyutnya. ‘Ora cidro ing janji’.
Terima kasih Mbah Buyut.
…
Jlitheng

