Suatu hari saya sakit, cukup parah, secara finansial. Saat sakit itu menusuk ulu hati, saya berdoa: “Gusti, kulo nyuwun welas.” Sampai suatu siang saya seperti bermimpi, Tuhan menepuk bahuku dan berkata: “Kalem saja bro, ini Aku.”
Saat aku menoleh, tidak ada siapa pun, tapi di WA aku ada bukti transfer, dengan notif pendek: “De, dari kami, semoga membantu!”*
Dari pergumulan asa yang kita alami, dalam rupa sakit atau derita, kita bisa melihat, bahwa saudara, teman atau hidup kita lebih dari hanya saudara, teman atau hidup, tapi Tuhan yang dekat dan nyata-nyata hadir untuk menolong kita. Itulah iman yang melahirkan harapan.
“TUHAN itu dekat pada orang-orang yang patah hati, dan remuk jiwanya” (Maz 34: 18).
Salam sehat.
Jlitheng

