“Terjadilah menurut yang kau percaya.” -Mat 9: 29
Dengan semangat kemiskinan dan rendah hati untuk berserah pasrah pada kehendak Allah, karena tidak ada hal yang mustahil bagi-Nya.
Jalan berserah pasrah pada Allah, saya hidupi dengam berpikir hal-hal baik dan positif untuk menyangkal diri, serta mengutamakan kepentingan orang lain di atas diri sendiri.
Tujuan saya melakukan ini adalah saya tidak mau jadi pribadi yang induvidualis dan egoistis, tapi jadi pribadi yang peduli, berempati, dan murah hati.
Ketika ada teman berkata kasar, meremehkan, atau menyinggung perasaan itu tidak saya masukkan di hati. Saya tidak mau sensian dan tersinggungan. Sebaliknya saya belajar untuk mengendalikan mulut, karena tidak semua teman bisa menerima dan memahami diri ini. Saya berkata-kata yang baik itu untuk menghibur, menguatkan, dan meneguhkan iman sesama.
Ketika berencana mengganti hp jadul yang bermasalah dan rusak, karena terjatuh. Tetangga rumah sebelah menggeluh meminjam uang untuk mengambil rapor anak dan yang sebelah rumah lagi untuk biaya berobat istrinya. Rasa kasihan membuat saya mengalah untuk mendulukan kepentingan mereka yang lebih membutuhkan. Saya menunda sementara untuk membeli hp, tapi memperbaikinya.
Begitu pula dengan teman sopir di kantor yang mengajak saya berbuat curang untuk menggelapkan barang. Saya mengingatkan dan berdoa agar sopir itu sadar, tapi saya malah dimarahi dan ditendang untuk tidak mengenekinya lagi. Ketimbang konflik batin dan takut kena getah perbuatan sopir, saya mengalah, lalu pindah kerja ke perusahaan lain.
Iman ini makin diteguhkan, ketika saya diingatkan dengan kisah perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Ia menyentuh jubah Yesus, dan seketika itu ia sembuh (Mark 5: 28).
Dengan semangat menyangkal diri dan miskin di hadapan Allah, saya mohon berkat-Nya agar mukjizat-Nya jadi nyata!
Iman sebiji sesawi itu anugerah Allah yang luar biasa. Terpujilah nama-Nya untuk selama-lamanya. Amin.
…
Mas Redjo

