Berkatalah gadis itu kepada Nyonyanya: “Sekiranya Tuanku menghadap Nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya” (2 Raj 5: 3).
Kisah Naaman dan gadis kecil dari Israel menunjukkan ironi yang luar biasa. Naaman adalah panglima besar, kuat, dan berkuasa, tapi ia tidak berdaya, karena penyakitnya. Sementara itu, seorang gadis, tawanan perang yang tampak tidak berarti, justru memiliki kunci kesembuhannya.
Kita melihat di sini, bahwa Allah sering bekerja melalui cara yang bertolak belakang dari logika manusia; yang lemah justru dipakai untuk menunjukkan kuasa-Nya.
Gadis ini meski kehilangan keluarga, tanah air, dan kebebasannya, tetap percaya kepada Allah. Ia berani menolong Tuannya yang orang asing dan hidup di tengah bangsa yang jadi musuhnya.
Tuhan dapat memakai iman dan kata sederhana kita untuk membawa harapan dan kehidupan bagi orang lain. Kisah ini mengajarkan, bahwa Allah tidak membutuhkan sumber daya besar untuk melakukan karya-Nya, tapi hati yang setia dan bersedia. Iman, ketekunan, dan kata-kata sederhana dari hati yang bersedia dapat membawa harapan, kesembuhan, dan perubahan besar bagi orang lain, bahkan dalam situasi yang sulit atau tak terduga.
Sr. M. Alexandra, P. Karm
Senin, 09 Maret 2026
2 Raj 5: 1-15 Mzm 42: 2-3 ; 43:3-4 Luk 4: 24-30
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

