Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[Red-Joss.com] Iman yang kita miliki harus bisa memberi arti dari perjalanan hidup kita.
“Immediately Jesus stretched out of his hand and caught him, and said to him. “O you of little faith, why did you doubt?” (Matthew 14: 31).
Yang mempunyai pengalaman seperti ini banyak sekali: imannya ‘kecil’. Imannya ‘rapuh’. Mudah ragu, bimbang. Bahkan imannya tidak memberi efek sedikit pun pada kehidupan.
Kadang yang membuat kita kaget, iman si A atau si B itu tampak sangat kuat dan mantab, ternyata baru segitu. Mengapa? Karena imannya tidak hidup. Imannya tidak koneks dengan kehidupan nyata. Imannya berhenti pada ritus dan pengetahuan. Imannya tidak bisa memberi makna dari perjalanan hidupnya sehari-hari.
Coba dilihat atau diyakini, bahwa setiap pribadi itu mempunyai cara yang sangat unik untuk penghayatan imannya, tapi harus jujur dan tidak usah dibuat-buat. Jangan sampai terjadi pada diri Petrus seperti dalam Injil, lalu dikatakan oleh Yesus seperti ungkapan di atas.
Kita percaya, bahwa setiap pribadi mempunyai cara yang khusus dan berbeda dalam penghayatan iman. Hal itu tidak dibantah, tapi kita harus jujur pada diri sendiri, bahwa iman yang kita hayati itu harus memberikan rasa damai dan tenang dalam hidup ini. Jangan sampai kita tidak mengerti dan tidak paham dengan iman yang kita hayati sekarang ini.
“In communication, you will need to know about the where, when, to whom, who, how and why before you really understand what is said.“
Lihat, iman yang kita miliki harus bisa dijawab dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Iman, benar-benar menjadi ruang komunikasi antara kita dengan Tuhan. Apakah kita ingin mengenal lebih dalam lagi?
Lewat Sabda-Nya, Dia datang kepada kita, dengan mengatakan, “Take courage, it is I; do not be afraid” (Matthew 14:27).
Dia, hendak melihat dan menguji iman kita. Jujurlah, jika memang membutuhkan Tuhan. Berserahlah, jangan merasa diri kuat dan hebat.
Jika memang imannya kecil, rapuh dan lemah, lebih baik diakui dengan jujur. Kita sadar diri dan berubah untuk lebih tekun lagi dalam penghayatan iman yang mewujud dalam kehidupan sehari-hari yang membuat hidup kita menjadi tenang dan damai. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

