“Apa yang sudah kamu ketahui tentang imanmu …?”
Iman itu pengetahuan atau pengalaman akan Allah. Apakah Allah yang menggetarkan jiwa dan mengagumkan? Allah yang dekat atau jauh?
Apakah kamu kelelahan dalam mencari-Nya atau kamu ditemukan saat dirimu kelelahan?
Coba direnungkan, apakah iman itu harus diterangkan secara detail atau berlangsung terus sebagai misteri yang menempatkan hati ini untuk tetap percaya, tanpa harus ada penjelasan secara detail.
Saat manusia ‘jadi seperti Allah’, justru mengecewakan dan membuat banyak orang tidak percaya. Sebab, keberadaan Allah tidak bisa disimpulkan oleh kata-kata seorang manusia.
Saat manusia amat percaya diri bisa menjelaskan tentang Allah, justru mendatangkan banyak pertanyaan. Sebab, keberadaan Allah tidak cukup diwakili oleh satu pengalaman saja.
Saat manusia ditempatkan lebih dari posisinya Allah, justru ia terkurung oleh ide-idenya sendiri. Dia seperti sedang bermain sandiwara, tanpa ada sutradara. Dia sedang menciptakan ceritanya sendiri, tapi kasihan tidak ada yang menontonnya.
Oleh karena itu tempatkan pengalaman iman itu lewat perjumpaan-perjumpaan. Rasakan pengalaman iman itu dalam saat kehadiran Allah. Benamkan pengalaman iman itu saat membaca sabda-Nya untuk menemukan hikmat-Nya.
Sejatinya yang jadi kunci dari semua itu, supaya kita tahu tentang iman sendiri agar tidak mudah berpindah. Karena itu tanda, bukti tidak setia. Sebab iman itu bukan barang dagangan. Karena iman itu adalah mutiara jiwa yang paling berharga.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

