“Ketika kebenaran menuntut harga yang mahal, rahmat memberi keberanian untuk tetap setia.”
Allah mengajak kami menatap hati manusia dengan jujur.
Dalam Injil, Herodes tidak dapat mengabaikan Yesus. Nama Yesus mengguncang hati. Membangkitkan rasa ingin tahu, ketakutan, dan rasa bersalah. Orang banyak bertanya-tanya, siapa itu Yesus. Tapi Herodes terperangkap oleh masa lalunya. Ia mengira Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit: suara kebenaran yang pernah ia bungkam demi menjaga harga dirinya.
Kejatuhan Herodes tidak dimulai dari pembunuhan, melainkan dari hati yang berkompromi. Ia senang mendengarkan Yohanes. Ia tahu Yohanes berkata benar. Namun alih-alih bertobat, ia memilih kenyamanan. Ketika saatnya tiba, ia lebih takut kehilangan muka daripada kehilangan jiwanya.
Yohanes wafat, karena satu kalimat sederhana: “Tidak halal.” Kebenaran yang diucapkan dengan setia jadi ancaman bagi kebebasan yang palsu.
Kitab Sirakh mengingatkan kami, bahwa kebesaran sejati bukan hasil usaha manusia semata. Daud menang, bukan karena mahkotanya, melainkan karena Allah yang berperang baginya. Hidupnya berakar pada pujian, syukur, dan ketaatan. Mazmur meneguhkan iman itu: Engkaulah Allah yang hidup, gunung batu dan penyelamat kami.
Allah memperlihatkan kepada kami sebuah perjamuan yang berbeda. Bukan pesta Herodes yang penuh berlebihan, melainkan meja belas kasih Putra-Nya. Bukan perayaan ego, melainkan pemberian diri. Di sini kebenaran tidak dipenggal, tapi dipecah dan dibagikan.
Dalam setiap Ekaristi, Yesus menyambut yang lemah, menyembuhkan yang terluka, dan mengutus kami. Bukan dengan ketakutan seperti Herodes, melainkan dengan keberanian seperti Yohanes, Paulus Miki, dan para martir-Nya.
Berilah kami keberanian, ya Bapa.
Di dunia yang mudah berkompromi, ajarlah kami setia. Ketika kebenaran mahal harganya, ajarlah kami percaya. Saat iman menuntut pengorbanan, kuatkanlah kami oleh rahmat-Mu.
Semoga kami berpegang teguh pada iman yang kami akui, bahkan sampai akhir hidup kami, sebab Engkaulah setia selama-lamanya.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

