“Tuhan, tenangkan hati kami yang mudah gelisah. Beri kami rahmat iman yang mau menyediakan diri bagi tempat kediaman-Mu yang layak.”
Orang Farisi meminta tanda kepada Yesus. Bukan karena mereka mencari kebenaran, melainkan karena mereka menolak untuk percaya.
“Seseorang yang bimbang itu seperti gelombang laut, yang diombang-ambingkan angin,” kata Santo Yakobus. Hati yang gelisah selalu meminta bukti. Tapi hati yang percaya belajar mendengarkan.
Yesus menghela napas dalam-dalam, karena sedih. Tidak ada mukjizat yang bisa meyakinkan hati yang tertutup. Tidak ada tanda yang cukup bagi orang yang menolak berserah.
Tuhan, selamatkan kami dari iman yang tawar-menawar dengan-Mu.
Engkau bukan mesin yang menghasilkan jawaban instan. Engkau adalah Bapa yang mengundang, Gembala yang menuntun, dan Hadirat yang rindu tinggal dalam hati kami.
“Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu,” ” kata Pemazmur. Bahkan kesulitan pun bukan tanda Engkau meninggalkan kami, melainkan undangan untuk semakin percaya.
Ya, Allah, bentuklah dalam kami iman yang teguh. Tenangkan hati kami agar mampu menerima-Mu, rendahkan hati kami agar mau mengikuti-Mu, dan bukalah hidup kami agar jadi tempat tinggal-Mu.
Datanglah, Tuhan Yesus.
Bertahtalah bukan atas tuntutan kami, tapi di dalam penyerahan kami.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

