Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Janganlah melakukan sesuatu kepada orang lain hal yang engkau sendiri tidak ingin orang lain melakukannya kepadamu.”
(Hukum Emas Kehidupan)
…
Kisah Sang Bijak dan Putra Mahkota
Putra Mahkota Kemaharajaan Persia pernah menimba ilmu kepada seseorang yang dianggap paling bijak di zaman itu.
Ribuan buku dilahapnya dan ribuan ilmu sempat dikajinya dengan tekun dan setia.
Hingga di suatu saat dengan tanpa sebab atau alasan yang jelas, Sang Bijak itu memukul Pangeran dan mengusirnya pergi.
Setelah Pangeran dinobatkan sebagai Raja, sang Bijak itu dipanggil itu ke istananya. Sebelum Raja menghukumnya, Raja meminta penjelasan, mengapa sang Bijak memukulnya?
Dialog Interisan
“Dulu, Mengapa Tuan memukulku?”
“Karena engkau telah mempelajari semua ilmuku, kecuali Satu.”
“Lantas ilmu apa yang hendak engkau ajarkan lewat pukulanmu?”
“Aku justru hanya ingin mengajarimu, perihal pahit getirnya perasaan dan penderitaan orang-orang yang teraniaya, supaya kelak engkau tidak jadi maharaja lalim.”
(Berguru pada Saru)
Terhenyak dan Tertunduk Sejenak
Setelah membaca dan mencermati dengan saksama kisah Pangeran dan sang Bijak, maka saya jadi terkesima dan tertunduk.
Saya mulai memahami, misteri terdalam dari sikap konyol nan kasar dari sang Bijak itu. Saya juga terkesima dengan sikap taat dan patuh Pangeran yang akhirnya segera pergi setelah diusir.
Dalam refleksi personalku lewat konteks kisah unik ini, terkandung sikap dan nilai-nilai luhur serta kebijaksanaan.
Bijak Bertindak sebelum Kasip
Ini bukan tindakan sembarang memukul dan tidak sekadar perihal usir-mengusir. Karena di balik dan lewat peristiwa kekerasan itu, justru terkandung sebuah nilai berupa pengajaran, kebijaksanaan dan sikap bela rasa (compassion) yang perlu segera disadarkan serta dibangun sebelum terlambat alias kasip.
Sang Bijak ternyata sangat mampu membaca fenomena kepemimpinan kejam lalim di zaman ini. Sosok sang Bijak yang menyadari kebrutalan dan sikap semena-mena dari para penguasa kini.
Tumbuhkan Sikap Bela rasa
Sang Raja muda itu tertegun dan mengagumi kebijaksaan dari si Guru Bijak itu. Hal ini dapat dibuktikan, bahwa dia tidak menghukum si Bijak. Karena Raja muda itu menemukan kearifan dan keluhuran sikap dari si Bijak itu.
Semoga dari dan di balik kisah unik ini dapat menumbuhkan sikap bela rasa dari dalam sanubari para Pemimpin kita.
Diajarkan dan bahkan Dihajarkan
Sejatinya inilah ilmu yang paling akhir dan perlu juga ‘diajarkan’, bahkan (dihajarkan) kepada para calon Pemimpin serta para Pemimpin kita di semua level kehidupan ini.
“Janganlah kamu memerintah rakyatmu dengan tangan besi, melainkan hendaklah kamu saling mengabdi.”
(Amanat Pengajaran Kristiani)
…
Kediri, 15 Oktober 2024

