(Yoh 21: 19)
“Ikutlah Aku,” ke mana? Tentu ada yang segera mengikuti-Nya, menimbang-nimbang, menunda, dan ada pula yang menolaknya. Hal itu tidak masalah. Yesus tidak pernah memaksa. Keputusan itu ada di tangan setiap pribadi. Dia tetap menghargai kebebasan kita. Jika kita jadi murid Yesus, karena terpaksa, maka kita tidak akan pernah bangga dan bahagia.
“Ikutlah Aku,” ke mana? Ada di antara kita yang tahu, sedang mencari tahu, tidak mau tahu, dan ada yang ikut-ikutan.
Yesus mengundang kita dengan alasan dan tujuan yang sangat jelas untuk menyelamatkan kita. Jika kita mengikuti Yesus, tapi tidak pernah merasa diselamatkan dan dikasihi berarti ada suatu yang salah di dalam diri ini. Apalagi ada yang mencari pembenarkan diri, lalu meninggalkan Yesus dengan alasan ajaran Gereja Katolik tidak tepat. Sayangnya, alasan itu tidak logis. Setelah dicari tahu, ternyata meninggalkan Yesus, karena alasan manusiawi untuk mengelabui-Nya.
“Ikutlah Aku,” ke mana? Ada yang mengikuti-Nya setiap hari, suam-suam kuku, dan ada yang tertulis saja namanya di kartu identitas.
Yesus mengundang berarti kita harus konsisten dan loyal. Tapi ada saja yang tergoda untuk tidak setia. Mereka enak saja meninggalkan Yesus. Kalau ditegur, mereka tersinggung dan marah. Padahal mereka wajib diingatkan dan dinasihati. Lalu, jika yang diingatkan dan dinasehati tidak mau, gimana? Maaf, banyak yang keras kepala.
“Ikutlah Aku,” ke mana? Mengikuti Yesus, hanya dan untuk Yesus. Kita bersyukur telah ditemukan, diundang, dan dikasihi Yesus. Kita amat bangga dan bahagia mengikuti Dia selama ini, bagaimana dengan yang lain? Tetap memutuskan mau pergi juga?
Kita yakin seyakinnya, bahwa “Paskah itu membawa sukacita. Dia telah menaklukkan maut, dan maut tidak berkuasa lagi. Kami juga percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal. Amin.”
Rm. Petrus Santoso SCJ

