“Apa reaksi kita, ketika menerima hantaran dan selalu dibaiki oleh seorang tetangga yang tidak kita senangi?”
…
| Red-Joss.com | Saya tidak tahu dan tidak mau membayangkan. Saya juga tidak mau menilai seseorang dengan prasangka buruk. Karena yang membawa hantaran itu saya sendiri. Saya bersikap baik pada keluarga E yang di depan rumah, meski sejak lama E seperti sentimen dengan saya. Bahkan E menyebar isu tidak sedap tentang rumah yang saya tempati.
Ketika rumah itu belum ditempati dan dibiarkan kosong, saya tinggal di rumah kontrakan. Rumah saya yang langganan banjir itu diisukan sebagai tempat jin dan sarang ular.
Setelah rumah itu dibangun dan hendak saya tempati, rumah itu diisukan berhantu. Ada cerita, bahwa dari dalam rumah kosong itu sering terdengar suara orang ngobrol, mandi, atau penampakan wanita di teras loteng.
Beberapa warga bercerita memberi kesaksian untuk menunjukkan bukti, tapi saya menanggapinya dengan santai.
Saya bersikap baik pada keluarga di sekitar rumah, khususnya pada E. Karena prinsip saya sederhana. Kebaikan adalah kebaikan. Ikhlas itu tidak membutuhkan tanggapan atau penilaian.
Saya percaya, bahwa fondasi kasih dan saling menyayangi anggota keluarga adalah kekuatan untuk mengatasi godaan si jahat. Sedang tetangga yang nyinyiran itu tidak perlu ditanggapi, tapi dikasihi dan didoakan.
Saya ingat nasihat leluhur, bahwa sejelek-jeleknya sikap seseorang, jika selalu dibaiki akhirnya luluh juga.
“Jika seterumu lapar, berilah dia makan. Jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12: 20)
Meski E bukan seteru, tapi saya selalu berdoa untuk kebaikan E. Karena ia tidak tahu apa yang diperbuat.
Saya ingin menempati rumah baru dengan semangat saling mengasihi, rukun, dan bahagia.
Semoga terang kasih Allah menjadi penerang keluarga saya, sekaligus mencerahkan hati tetangga yang dilanda kegelapan.
…
Mas Redjo

