“Bernostalgia kisah manis membuat kita jadi sentimental dan cengeng. Berani menerima kenyataan pahit dan mensyukurinya membuat kita jadi sabar dan tangguh.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Kesan sentimental itu yang saya tangkap dari seorang sahabat yang tiba-tiba muncul ke toko, setelah sekian lama menghilang.
“Apakah saya harus berbisnis lagi?” gumam Bapak D, seperti ditujukan pada diri sendiri.
“Lho, ada apa ini …? Ya, ndak boleh begitu,” komentar saya enteng, sambil tersenyum, dan tenang.
Bapak D lalu cerita usahanya yang anjlog sejak dipegang anaknya. Ia jadi gemas dan ingin terjun kembali untuk mendatangi dan manarik pelanggannya lagi.
“Faktanya, kondisi perekonomian sedang tidak baik-baik saja. Semua sektor usaha terdampak. Jujur Pak, saya bisa menggaji karyawan dan numpang makan itu karunia Tuhan yang harus disyukuri,” tegas saya.
“Bapak merendah,” kata Bapak D.
Saya menggeleng, senyum, tapi saya tidak meneruskan topik itu. Karena bakal meracuni Bapak D. Sehingga membuatnya bersesal diri, dan makin nelongso.
Saya banyak belajar dari Bapak D. Ketika ia memotivasi saya agar tidak takut pinjam uang ke bank untuk pengembangan usaha, asal tidak salah berhitung. Sehingga tidak besar pasak daripada tiang. Alias nombok.
Bapak D juga mengajari saya untuk hilirisasi usaha agar keuntungan perusahaan terus meningkat. Sedang Bapak D selain menjual kerupuk mentah, ia juga menjual sagu untuk memenuhi produsen kerupuk. Sehingga keuntungannya juga dobel.
“Semua usaha itu ada masanya. Penanganan Bapak dan anak juga beda. Lebih baik disyukuri, karena banyak orang yang keadaannya di bawah kita. Mungkin juga, anak Bapak mau usaha lain. Coba diajak ngobrol dari hati ke hati. Untuk mengetahui kemauan anak.”
“Bagi saya, Pak. Yang penting kita mendidik anak dan membekalinya cukup ilmu. Anak itu mempunyai rezeki sendiri. Kita berserah dan mendoakankan mereka agar diberi Tuhan yang terbaik.”
“Jadi saya .…”
“Ya, jangan bosan mengingatkan dan mendoakan anak. Kita tidak perlu uring-uringan dan jadi stres. Dinikmati saja, Pak, sambil momong cucu itu hepi.”
“Saya coba….”
“Harus bisa, Pak. Kita belajar ikhlas, melepas tanpa merasa kehilangan. Hidup jadi enteng dan tanpa beban.”
Bapak D mengiyakan. Perlahan, sorot matanya makin cerah, tidak seperti pada waktu datang tadi.
Siang itu saya menjamu Bapak D bersantap di dapur Sunda yang tidak jauh dari toko.
Mas Redjo

