“Pekerjaan yang dijalani ikhlas hati itu meluaskan rezeki.” -Mas Redjo
…
Saya salut sesalutnya dengan Pak TP pelanggan toko. Usianya menjelang 70 tahun, tapi semangat hidupnya luar biasa.
Setiap dua-tiga hari sekali, Pak TP belanja plastik ke toko untuk membungkus peyek, lalu peyek buatan istrinya itu dititipkan ke warung-warung dengan menggunakan sepeda.
“Untuk kesibukan, menganggur itu bikin suntuk,” katanya merendah di sela tawanya yang renyah dan sumringah.
Tidak hanya salut, tapi saya respek dan hormat setinggi-tingginya pada Pak TP, meski tamatan SMP dan pensiunan Satpam, tapi mampu mengantarkan ketiga anaknya itu hingga Sarjana. Mereka sudah mentas dan mandiri. Bahkan, dua dari ketiga anaknya itu memperoleh beasiswa jenjang S2 di luar negeri.
Kini Pak TP tinggal serumah dengan menantu perempuan dan seorang cucunya yang es-em-a, karena anak bungsunya sedang menyelesaikan S2-nya di Jerman.
Tidak hanya itu, kegigihan Pak TP juga teruji, karena ia menukangi pembangunan rumahnya sendiri, yang dikerjakan sepulang jam kerja, meski selesai lebih dari 2 tahun. Ternyata, selain bekerja sebagai Satpam, ia juga membantu teman menukang, jika libur bekerja. Untuk menambah uang belanja, ia juga bekerja serabutan.
Ketika ditanya rahasia Pak TP mampu mengantarkan anak-anaknya hingga sukses, sekali lagi ia tersenyum renyah.
“Saya sendiri tidak tahu. Tapi saya percaya, jika hidup ini dijalani ikhlas hati itu meluaskan rezeki. Hidup ini jadi adem ayem,” ungkap Pak TP yang sejak muda ini terlibat aktif dalam organisasi sosial.
Alasan utama Pak TP yang aktif bekerja, meski usianya tidak muda lagi, adalah karena menurutnya, bekerja itu menyehatkan tubuh, pikiran tidak suntuk, dan ia tidak mau merepoti anak-anaknya.
Hidup ikhlas itu tiada beban, hati pun ayem tentrem, dan bahagia.
…
Mas Redjo

