“Langkah cerdas untuk menyiasati dunia usaha yang makin lesu itu adalah, bersikap ikhlas hati agar rezeki kita dilancarkan.” -Mas Redjo
…
Ketika dunia usaha terseok-seok dan anjlok, semangat ikhlas hati itu saya pompakan ke relasi yang datang sesambat atau mengeluh kepada saya. Tujuan saya agar mereka itu tidak menyerah. Tapi agar sabar, tabah, dan percaya: bahwa, setelah hujan bakal muncul pelangi!
Bagi saya pribadi, sepi atau ramai dalam berdagang itu hal biasa. Tapi, kini usaha yang anjlok drastis itu harus disikapi dengan bijak untuk mencari solusi, dan jalan ke luarnya.
Saya tidak menganut paham memaklumi situasi dan kondisi yang sulit itu dengan diam menunggu, tapi untuk segera beradaptasi dan berjuang guna mengantisipasinya.
Saya mencoba-terapkan varian dari cara A, B, atau C… untuk menyiasatinya guna menaikkan omset penjualan. Tapi konyolnya usaha saya seperti membentur tembok kegagalan.
“Selalu bersyukur untuk berserah dan mengandalkan Allah, karena itulah kekuatan iman kita, Le,” tiba-tiba nasihat (alm) Ibu menggedor hati saya, mengingatkan.
Saya terhenyak dalam diam nan pedih didera kegagalan, karena usaha saya tidak membawa hasil baik. Nasihat Ibu itu menyadarkan dari mimpi buruk agar saya datang bersujud pada Allah untuk berserah dan mengandalkan-Nya.
Dengan bersyukur agar saya berani menerima kenyataan pahit getir ini, untuk mengikuti rencana dan kehendak Allah.
Ternyata hikmat di balik peristiwa usaha yang melambat itu adalah agar hubungan saya dan keluarga makin dekat, akrab, dan hangat.
Jika semula saya yang super sibuk berbisnis demi mengejar target dan omset penjualan, kini dengan usaha yang melambat itu makin banyak waktu saya untuk berkumpul dengan keluarga.
Sungguh, kebahagiaan bersama keluarga itu adalah rezeki yang luar biasa bagi saya. Resepnya: ikhlas hati!
…
Mas Redjo

