Pernyataan di bawah ini ke luar dari mulut seorang sopir grab, yang Kamis pagi lalu mengantar saya ke kampus. Seturut pengakuannya, dia adalah Guru, masih muda, yang terdampak PHK.
“Sambil nunggu panggilan (lamaran), saya ikhlas menerima kondisi dan menjalani kerjaan ini. Saya berserah diri sepenuhnya pada pimpinan Tuhan, dan mengiringinya dengan sabar, rasa syukur (bisa nganter Bapak), dan saya tidak berburuk sangka pada Tuhan. Saya percaya Tuhan sedang membimbing saya jadi lebih taat pada-Nya,” katanya
“Wah, Anda masih muda, punya sikap ikhlas yang mengesankan. Benar sekali, Nak. Sikap itu membuat hatimu lebih tenang, kuat, dan punya harapan, karena yakin, bahwa pengalaman pahit (yang mungkin tak ingin diterima) itu ada hikmah yang baik, walau belum Anda ketahui dengan utuh.”
Ketika saya turun di lobby kampus, sopir itu juga turun, menjabat tangan saya sambil berkata, “Terima kasih empati, Bapak.”
Saya membuka masker, tersenyum padanya, sambil tangan kanan ini saya letakkan di dada kiri. Ya, dari wajahnya yang teduh itu saya melihat keikhlasan hatinya.
Salam sehat.
Jlitheng

