“Anugerah Tuhan gratis diberikan, bagikan juga dengan ikhlas hati.” Rio, Scj
Ikhlas itu mudah diucapkan, tapi enggan atau sulit untuk dijalani. Kebersamaan sebagai manusia itu diukur dari untung rugi, sederajat atau beda level, sama atau berbeda. Tidak sebatas dalam masyarakat, tapi keluarga juga terkontaminasi. Hidup beriman pun dapat teracuni.
Ikhlas itu belajarnya sekali, tapi ujiannya terus menerus, dan berkali-kali. Belajar untuk memahami, bahwa hidup itu tidak selamanya indah. Belajar menerima kenyataan, meski faktanya seperti tidak diharapkan. Tapi ada kalanya Tuhan mengizinkan kita untuk melewati derita dan bencana. Kadang rencana kita dibelokkan, harus kehilangan, ditolak, dicaci, dan direndahkan. Bahkan kadang pemberian kita yang tulus itu tidak dihargai, apalagi diterima.
Untuk menjadi pribadi yang ikhlas itu:
Pertama: ‘let go and let God’. Belajar untuk lepas bebas. Lepaskan asesoris kehidupan yang membuat kita sulit bersyukur, berbagi, dan pelit dalam hidup. Belajarlah dari Tuhan yang ikhlas mencipta, memberi, memberkati, mendampingi, menolong dan menyelamatkan kita tanpa mengharapkan balasan.
Kedua: ‘stop worrying and start trusting’. Gelisah, khawatir, atau takut itu manusiawi dan menjadi bagian dalam hidup kita. Gelisah, takut, khawatir itu tidak bisa sirna, tapi bisa diperkecil. Orang berani itu tidak berarti rasa takutnya sirna, tapi berani untuk mencoba. Orang yang berani itu mempunyai pendirian dan kepercayaan.
Ketiga: ‘say thank you’. Rasa syukur dan terima kasih adalah pilar untuk ikhlas dalam hidup. Ukurannya tidak didasari untung atau rugi, tapi hati yang bersyukur. Hal sekecil apa pun dalam perjalanan hidup ini disyukuri. Bila berbagi dan memberi pun ia ikhlas melakukannya.
Keempat: ‘no complain’. Hidup yang dikuasi oleh untung rugi itu selalu protes. Hidup yang sulit berbagi itu selalu mementingkan diri sendiri, menyalahkan, dan mencari kesalahan orang lain. Karena itu setia dan tekunlah berproses bukan protes.
Miliki semangat berbagi, ikhlas hati.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

