“Idealis itu baik, ketika hidup ini dimaknai demi kemaslahatan sesama.” -Mas Redjo
Ketika remaja, saya ingin jadi seorang idealis yang berpegang teguh pada prinsip untuk mewujudkan ide besar itu jadi kenyataan. Tapi seiring perjalanan waktu, ternyata saya adalah seorang pemimpi yang malas. Ide besar itu sekadar di angan-angan, karena saya tidak berusaha dan berjuang untuk mewujudkannya.
“Bagaimana mampu jadi seorang idealis yang hidup bermaslahat bagi sesama, tapi gagal memenuhi kebutuhannya sendiri?”
Dalam permenungan itu saya disadarkan, tidak mungkin saya jadi pribadi yang ideal untuk orang lain, jika keuangan saya acakadut, dan bergantung pada orangtua. Intinya, saya harus bekerja, mandiri, dan bertanggung jawab untuk memaknai hidup ini.
Orientasi hidup mandiri itu yang memacu saya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, yakni dengan bekerja atau wirausaha. Tujuannya jelas, dengan bekerja secara mandiri itu saya dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi sesama.
Semangat idealis itu juga yang memacu saya untuk jadi kepala rumah tangga yang ideal dan bertanggung jawab, yaitu memenuhi kebutuhan hidup layak anggota keluarga, baik jasmani maupun rohani.
Hidup yang idealis, mandiri, dan bermakna bagi sesama?
Jelas! Banyak orang yang tergerak hatinya untuk melakukan hal itu. Untuk memaknainya, kita tidak harus melakukan hal yang besar, hebat, dan spektakuler. Tapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dan sederhana itu dengan cinta yang besar sebagai ungkapan ketaatan dan kesetiaan kita pada kehendak Allah.
Jangan lelah berbuat baik. Tetaplah semangat untuk hidup bermakna sebagai saluran berkat Allah.
Imanuel!
Mas Redjo

