Di dalam hidup kita, perubahan seseorang dari sikap yang baik jadi jahat itu sudah banyak terjadi. Demikian juga seseorang dari sikap yang jahat jadi baik juga banyak terjadi. Hal ini bukan karena otomatis atau bonus bagi dirinya. Perubahan itu terjadi umumnya, karena disengaja atau dimungkinkan. Kebebasan yang ada pada kita jadi semacam lisensi untuk terjadinya perubahan tersebut. Dalam Kitab Nabi Yeheskiel membandingkan dua alam yang dihidupi oleh manusia, alam gelap dan terang. Setiap orang bebas dan sengaja memilihnya.
Mereka yang hidup dalam dunia gelap yang penuh kejahatan sebenarnya pernah jadi orang-orang baik. Pemimpin Setan sebelum memeluk kejahatan, ia adalah Malaikat. Begitulah, banyak orang jahat justru sebelumnya adalah orang-orang baik dan benar. Nabi mengatakan, bahwa perubahan seperti ini, jalannya yang pasti ialah menuju kepada kebinasaan. Hasil terakhir yang didapatkan dari pilihan untuk hidup jahat dan menjalaninya ialah kematian. Tak ada lagi pertolongan apa pun baginya. Orang yang sudah di dalam Neraka tidak bisa tertolong lagi.
Mereka yang hidup dalam rahmat Tuhan adalah mereka yang hidup penuh dengan terang Tuhan, yang terwujud dalam kata dan perbuatannya. Justru yang sangat dipuji oleh Tuhan dan diberikan harapan untuk hidup ialah mereka yang melepaskan kehidupan yang gelap dan menjalani hidup dalam terang.
Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk memiliki pengalaman seperti ini. Melalui usaha-usaha yang berbentuk disiplin, seperti berpuasa, pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, kita membaharui diri untuk jadi pribadi-pribadi yang baru.
Pembaharuan ini dibuat secara sempurna oleh Yesus, yaitu menciptakan suatu cara baru dalam mematuhi perintah-perintah Tuhan dan untuk menghindari perbuatan-perbuatan jahat. Hukum lama menetapkan sejumlah syarat untuk tidak menajiskan dan menjerumuskan diri ke dalam dosa sesuai dengan cara pandang pada waktu itu. Hukum lama tersebut diganti oleh Yesus dengan lebih menekankan aspek kemanusiaan dan bukan pada aturan adat, kebiasaan, dan pandangan orang-orang besar atau pemuka agama.
Hukum baru oleh Yesus Kristus ialah cinta kasih. Menurut prinsip hukum cinta kasih, tindakan yang dimulai dari niat, pikiran, dan rencana yang jahat itu sudah dianggap sebagai dosa. Hal ini menggantikan hukum lama yang hanya melihat dosa, kalau sudah terjadi pembunuhan, pengrusakan, pemfitnahan, pengutukan, dan perampasan. Padahal, ketika sudah ada niat atau pikiran jahat, seseorang sudah membentuk amarah dan benci, untuk nanti dilakukan secara konkret. Dengan demikian, dosa dan kejahatan memang dimulai dari pemahaman, konsep, niat, dan pikiran-pikiran yang jahat.
“Ya, Yesus yang Mahabaik, sempurnakanlah di dalam hati kami hukum cinta kasih-Mu dan mampukan kami menggunakannya untuk mengasihi sesama seperti yang Engkau kehendaki. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

