“As you sow, so will you reap” (Gal 6: 7).
…
| Red-Joss.com | Hukum kesucian tabur tuai menyadarkan kita akan tiga hal.
Pertama: yang kita taburkan itu yang bakal kita tuai. Bila kebaikan dan kesucian yang kita taburkan dalam hidup niscaya yang baik dan yang sucilah yang akan kita tuai. Begitu sebaliknya. Walapun kadang kebaikan yang kita tabur dibalas dengan kebencian, hinaan, fitnahan, dan penghianatan. Tapi teruslah berbuat baik. Yakinlah yang baik akan mendatangi kita dan yang Kudus akan memberkati kita.
Walaupun saat menabur benih sayuran atau padi itu tumbuh rumput bersamaan, tapi tetap saja kita akan menghasilkan apa yang kita tabur. Ingatlah “Today is the father of tomorrow. And today’s challenges are the child of yesterday’s decisions.
Kedua: yakinlah, bahwa setiap kebaikan dan kesucian yang kita tabur akan kembali kepada kita dengan hasil berlipat. Tidak mudah memang, sulit pasti. Karena tantangan, hambatan dan kegagalan akan melawati. Tapi teruslah berbuat baik, maka hidup kita sudah menjadi berkat dan akan menjadi berkat.
Ketiga: Rendah hati, semua datangnya dari Tuhan. Kita bukan apa-apa, Tuhan adalah segalanya. Paus Fransiskus mengatakan, bahwa hidup kita itu ada dalam dua bingkai.
Bingkai pertama adalah bingkai salib. Seberat, sesulit, semenderita, dan sebanyak apa pun masalah dan tantangan kita, jangan takut. Karena semuanya itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan Tuhan di Salib. Yakinlah kita tidak sendirian, ada Tuhan yang membantu, memberkati, menerangi dan menunjukan jalan. Selalu ada jalan untuk mereka yang berharap dalam Tuhan.
Bingkai kedua: kebangkitan. Sesukses, sepintar, sekaya, dan sehebat apa pun kita tidak ada kebahagiaan sempurna dari kebangkitan dan hidup kekal. Karenanya jangan sombong, kalau saat ini kita berhasil, kaya, sukses, dan berkelimpahan harta. Masih ada kebahagiaan sempurna yaitu surga. Itu semua adalah berkat dan anugerah Tuhan sekata. Syukuri, berbagi, dan makin rendah hati.
Surga dan hidup kekal itu memang diperutukkan semua manusia. Bukan menyerah di tengah jalan, menyimpang ata pun kehilangan arah dan tujuan. Melainkan kita berusaha untuk mencapai garis finis, dan bahagia.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

