Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Memberi harapan baik
kepada para murid.”
(Didaktika Edukasi Hidup)
Honorare Discipulos
“Mari menghormati para murid,” terjemahan dari sebuah adagium berbahasa Latin, “Honorare discipulos.”
Tulisan ini bertolak dari pandangan dan sikap kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang tertuang dalam kolom Humaniora, harian Kompas, Sabtu, (12/7/2025) berjudul, “Masa Pengenalan Sekolah Kini Lima Hari.”
Mu’ti meminta pihak sekolah menyelenggarakan MPLS dengan “memuliakan murid,” menghormati hak anak, serta menjunjung tinggi nilai-nilai karakter melalui pemberian pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Jadi, MPLS harus ramah bagi anak.
Selanjutnya sang Menteri itu menegaskan, bahwa “MPLS bukankah masa perpeloncoan atau masa ketika senior menunjukkan kehebatannya kepada para yunior,” katanya di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Jumat (11/7/2025).
Himbauan dari Sang Humanis Sejati
Lewat berita yang sungguh menggembirakan hati dari harian Kompas yang bertolak dari dasar lubuk hati dan kesadaran sejati seorang pemimpin di bidang pendidikan, rasanya, bahwa inilah sebuah kebijakan yang sungguh sangat manusiawi.
Selanjutnya Menteri itu berpendapat, bahwa ‘MPLS merupakan masa murid baru memasuki lingkungan baru, menemui dan memiliki kawan-kawan baru, serta membangkitkan semangat baru untuk jadi lebih baik melalui pendidikan.’
Harapan Baru
Semoga lewat titik awal sebuah kebijakan yang terkesan sangat humanis ini, wajah sejati dari pendidikan di negeri ini ibarat menemukan kembali jalan pencarian mutiara yang telah hilang, yakni proses ‘homo humanus.’ Karena bukankah wajah dan orientasi pendidikan kita selama ini, justru terkesan sangat instruktif, komando, mendikte, serta menyeragamkan manusia muda, sesuai keinginan para pengelola di bidang pendidikan.
Sebuah Harapan Baru
Pada akhir tulisan ini, saya ingin menyodorkan sebuah harapan baru kepada dunia edukasi di negeri ini lewat seuntai adagium berbahasa Latin, “Bonum spem discipuli dare,” “Memberi harapan yang baik kepada para murid,” dan bukan justru mau menyiksa para murid lewat keinginan para pengelola pendidikan di pusat.
‘Non scholae sed vitae discimus’
(Belajar demi hidup dan bukan untuk sekolah)
Kediri, 14 Juli 2025

