Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Kini, saya pun teringat, akan sebuah statemen menantang, bahwa “Barang siapa pernah dilahirkan di atas jagad maya ini, maka dia pun perlu bersiap diri untuk ‘mengembara’ melintasi iringan kerikil nan tajam membara sebelum sayap malaikat maut pun menjemputnya pulang.”
Yah, sesungguhnya, sang manusia itu pun dilahirkan, hanya untuk menghadapi kematian!
Kita, sebagai manusia, siapa pun, dari suku bangsa dan keyakinan apa pun. Toh, ada rel-rel kehidupan yang pasti dan wajib dilintasi, ialah “mengembara dan siap menghadapi kematian.”
Filsuf eksistensial asal Perancis, Gabriel Marsel, dalam sebuah refleksi kefilsafatannya, pernah menjuluki sang manusia sebagai “homo viator” … “manusia, makhluk pengembara.”
Bahwa sang manusia itu, sesungguhnya, makhluk yang ‘terlempar’ ke atas bumi maya ini, justru tanpa melalui persetujuannya. Ternyata, sang cucu Adam ini, sungguh tak berdaya. Di gurun kehidupan ini, sang manusia itu pun sadar akan eksistensinya sebagai makhluk yang serba terbatas merana. Dia pun menyadari pula, bahwa dia sendirian melintas di atas gurun, dia sering mengalami ketakutan dan kesedihan. Dia sering pula dihadang badai kesalahan serta dosa. Bahkan, dia pun sadar, bahwa suatu saat kelak, entah kapan, di mana, dan bagaimana caranya, toh dia akan bergegas menuju tubir kematian mengenaskan.
Sungguh, terbatas dan rapuh sang manusia itu (erare humas est).
Saudaraku, riil pula, bahwa kita, baik secara personal pun berkomunitas, kita sedang mengembara. Anda yang adalah ahli agama, Anda yang pemimpin besar, Anda yang ahli penyakit ini dan itu, Anda yang suci dan saleh, atau pun pendosa kelas kakap, kita, saat ini sedang berziarah di gurun kehidupan ini.
Lewat tulisan kecil ini, sang penulis mengajak sang manusia untuk belajar memahami serta menghayati, apa sesungguhnya hakikat kehidupan ini.
Manusia, “siapakah engkau?” “Dari manakah engkau?” “Dan, hendak ke manakah engkau?”
Lewat ketiga buah pertanyaan abadi setua usia sang manusia ini, kita pun sedang bergegas menuju ke sana.
Saudaraku,
“memento mori,”…. ingat ajalmu!
…
Kediri, 18 Maret 2023

