Sunda Wiwitan
Dalam Carita Parahyangan, kepercayaan asli masyarakat Sunda disebut sebagai ajaran ‘Jati Sunda’ dan biasa disebut ‘Sunda Wiwitan’. Arti dari kata Wiwitan adalah asal atau yang pertama. Salah satu masyarakat yang masih memegang kepercayaan Sunda Wiwitan dengan teguh adalah ‘Suku Baduy’. Suku ini bertempat tinggal di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Bukti adanya kepercayaan asli Sunda terlihat dari adanya artefak peninggalan prasejarah maupun sejarah yang terkait dengan simbol dan tuntunan ajaran yang tertulis dalam naskah-naskah kuno. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa orang Sunda sejak Zaman Prasejarah sudah religius atau memiliki sistem kepercayaan terhadap Tuhan. Hal lain, suku Baduy masih memegang teguh kepercayaan yang menganut pada Nabi Adam atau Nabi Adam Tunggal. Menurut kepercayaan suku Baduy, Nabi Adam Tunggal menjadi manusia pertama yang turun ke bumi tepatnya di wilayah Baduy. Ajaran untuk hidup dengan jalan yang benar seperti tidak sombong, tidak menyakiti orang lain, patuh pada aturan adat setempat, tidak melakukan hal buruk terus dengan teguh dipegangnya. Mereka tidak mengenal pendidikan formal. Meski demikian, masyarakat Baduy bisa baca tulis dengan belajar pada orang-orang yang datang ke desa mereka.

Apa arti kata Baduy dan darimana sesungguhnya asal orang Baduy? Ada yang mengasumsikan Baduy dengan kata Badwi dalam bahasa Arab. Ada juga yang bilang berasal dari bahasa Sunda, dari sebutan “Cibaduy” sebuah aliran sungai di Desa Kenekes atau berasal dari nama sebuah Gunung Baduy. Asal usul dari mana orang Baduy, hingga kini masih dalam perdebatan sehingga menimbulkan banyak versi berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, menurut sesepuh Baduy Dalam, diantaranya Jaro Nalim, wakil Puun kampung Cikartawana dan para kokolotan di Baduy Luar, orang Baduy bukanlah pelarian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Padjadjaran dan bukan pula keturunan dari Prabu Siliwangi sebagaimana selama ini ditafsirkan oleh banyak orang luar.
Mereka mempertahankan ajaran dan adat istiadat untuk senantiasa bertanggung jawab menjaga keutuhan kelestarian alam sebagai ciptaan Allah yang telah memberikan kemakmuran bagi umat manusia di muka bumi. Kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala.
Menurut hemat penulis, suku Baduy dengan Sunda Wiwitan sebagai kepercayaannya, telah ada semenjak keberadaan Situs Salaka Domas di Baduy Dalam. Mengingat bentuk pola dengan model yang hampir sama dengan Situs Gunung Padang di Cianjur, maka sangat dimungkinkan berdirinya Situs Salaka Domas dengan Situs Gunung Padang adalah dalam waktu yang tidak berselisih jauh. Mengingat adat Suku Baduy Dalam yang tertutup, memang menjadi kendala bagi penelitian sejarah lebih lanjut tentang Sunda Wiwitan dan Baduy Dalam. Di Salaka Domas tidak ada yang boleh masuk kecuali Puun.
Kitab ‘Sanghyang Siksa Kandang Karesian’, adalah sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran Jati Sunda tentang keagamaan, tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia.
Amon Ra
Situs (piramida) Gunung Padang di Cianjur, yang dari usia lebih tua dari Piramida di Mesir adakah itu keduanya suatu kesamaan, atau memang dulunya perkembangan dari budaya Nusantara. ‘Amon Ra’ merupakan Dewa Matahari sembahan Dewa pada peradaban Mesir Kuno. Dari paparan di atas tentang Sunda, seperti ada hubungan yang erat di mana keduanya menyebut Matahari / Ra (Sunda).
Kata “Amon-Ra” mengingatkan pada istilah panon yang berarti mata, yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon”. Di mana Sang Hyang Manon adalah penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat zaman dahulu. Apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama, kita kembalikan kepada masing masing dalam mendifinisikannya.
Simbol “RA” (Matahari / Sunda) di Nusantara diibaratkan sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada zaman dahulu secara nyata, dan teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk (rupa) penamaannya yang bersifat baik dan agung, seperti : konsep wilayah Naga-Ra/ Nega-Ra, lambang negara Bende-Ra, maharaja Nusantara bergelar Ra-Hyang, keluarga kerajaan Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian – Raden penduduknya disebut Ra-Hayat – rakyat, nama wilayah disebut _Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Naga-Ra”.
Demikian sekelumit tentang kekayaan Nusantara yang layak kita simak. Semoga tulisan ini bisa memperkaya pustaka dan wacana bangsa. (riz)
…


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.