“Pribadi rendah hati itu tidak merasa digurui atau menggurui, karena hidup ini hikmat Tuhan.” – Mas Redjo
…
“Guru, mohon pencerahan. Apa benar tulisan saya menggurui pembacanya? Karena ada teman mengatakan hal itu kepada saya.”
“Menurutmu, Ngger?” Guru Bijak balik bertanya. Sorot matanya yang lembut itu sungguh mententramkan hati.
“Bagi saya hidup adalah belajar Guru. Hidup untuk berinteraksi dan berhikmat, baik pada sesama dan alam seisinya.”
“Seharusnya seperti itu, Ngger. Ketika kita merasa menggurui atau digurui, berarti kita belum rendah hati. Berkomentar atau menilai orang lain itu mudah, karena hal itu datang dari kesombongan kita.”
“Begitu pula saat kau termakan untuk menanggapi komentar dan nyinyiran orang lain. Hidup ini hikmat, ketika kita membuka hati untuk peka, peduli, empati, berbela rasa, dan berbagi pada sesama serta lingkungan sekitar.”
“Kita dapat belajar dari pohon yang hidupnya untuk memberi. Kendati dilukai dan disakiti, pohon itu tidak mendendam, tapi tetap memberi buahnya, bahkan hingga pohon itu menua dan mati. Daunnya untuk humus dan batangnya untuk kayu bakar.”
“Itulah makna nilai pengorbanan, Ngger. Ikhlas hati. Tanpa keikhlasan dalam menjalani hidup ini, kita mudah sekali kecewa, terluka, dan sakit hati.”
“Begitu pula, jika nanti kau hendak hidup berkeluarga. Ketika muncul konflik dalam keluarga, baik dengan istri atau anak, berarti kau belum rendah hati dan ikhlas.”
“Matur sembah nuwun, Guru,” kata Cantrik itu dengan takzim.
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi baik” (Mazmur 111: 10).
…
Mas Redjo

