| Red-Joss.com | Safari paseduluran kami lanjutkan dari Lampung ke daerah Bojong Bogor, pada hari perdana Januari.
Perjumpaan perdana antar cucu, jika digabung, inisial namanya ACC (Agata, Calla dan Clemens). Saya sangat yakin hal ini bukan sebuah kebetulan, melainkan sebagai waktu yang berahmat yang dalam bahasa Yunani disebut kairos. Seperti peristiwa perkawinan di Kana, sebab Tuhan hadir, merubah air menjadi anggur, merubah gelisah dengan berkah, mengganti luka hati dengan damai di hati.
Setiap orang merindukan adanya saat-saat yang menyenangkan, seperti keberhasilan, semacam masa keemasan dalam hidupnya. Tapi sukses itu tidak akan disebut kairos kalau Tuhan tidak hadir. Sukses tanpa Tuhan hanya akan jadi kronos, tercatat sebagai menjulangnya nama diri dan gengsi. Tidak ada damai sejati. Sebaliknya gelisah akan bertambah, karena makin haus dengan ekspektasi puja dan puji.
Hidup kronos hanya seperti buku-buku bagus berderet rapi di raknya. Tidak berguna, karena tak pernah dibaca. Ilmunya hanya mandeg di buku yang nampang doang.
Hidup kronos juga ibarat deretan foto indah terpajang megah di dinding, kronologi sukses masa lalu, indahnya sesaat, tapi tak pernah lagi berarti di hari berikutnya. Nostalgia kosong yang tidak menambah berkah apa pun.
Kesimpulannya: kairos itu ibarat pelita. ‘Urip iki kudu urup’, seperti pelita agar dapat jadi terang untuk sekitar kita. Diundang atau tidak, orang yang butuh terang pasti datang mendekat.
Hidup ini adalah kesempatan, meningkatkan kadarnya dari kronos jadi kairos, dari gengsi menjadi berkat, sebab hidup harus jadi berkat.
Itulah ‘the true spirit of Christmas and time. It resides in act of giving’ (menjadi berkah) not getting (sekadar nama).
Salam sehat dan terus melangkah menjadi berkah.
…
Jlitheng

