Oleh : Jlitheng
[Red-Joss.com] Pernah melihat pohon Kates (pepaya) yang tumbuh di celah tembok, terjepit, terdesak, namun tetap berbuah? Pohon pepaya itu adalah metafora ‘urip’ yang ‘urup’.
Walaupun pepaya itu didesak, dipepet, dan diinjak. Tapi, kalau ‘spirit’ hidupnya tinggi, dia akan mencari celah untuk tumbuh dan berbuah. Meskipun tidak besar, dan dengan susah payah, tapi tersenyum puas: ‘loe gak nyangka kan, aku berhasil juga’. Karena Tuhan memberi hujan dan panas pada semua, baik mereka yang jahat maupun mereka yang baik, yang hitam maupun putih . . tinggal siapa yang menjawab kasih-Nya. Sebab kasih itu bukan kata-kata, tapi tindakan nyata…
Mirip-mirip dengan melayani, walau tidak dianggap, tidak pernah dipahami, dihimpit dengan sebutan pah-poh, cari ‘cuan’ bergaya layan, dan sebagainya.
Jika memang hatinya satu dalam karya, seperti pohon pepaya tadi, akan terus mencari celah untuk bisa tetap berbuah kebajikan. Mungkin tidak significan dan harus dengan susah payah, tapi akan penuh sukacita, karena Tuhan ikut berkarya dalam karya bakti kita.
“Sebagian orang bermimpi untuk sukses, sebagian lain bangun di pagi hari dan mewujudkannya, sebagian lain berputar-putar cari alasan mengingkari janjinya.”
Bahagia, karena bermakna.
Jlitheng

