| Red-Joss.com | Pernahkah kita berpikir, bahwa sesungguhnya hidup ini untuk menuju pulang kepada Allah? Kita ini diciptakan dan milik-Nya. Kita hidup untuk bahagia.
Tidak harus kaget, menolak, atau apriori. Silakan direnungkan dan dimaknai sendiri.
Saya sungguh sadar-sesadarnya, bersyukur sesyukurnya, dan bahagia sebahagianya. Saya dirahmati dan dianugerahi Allah, sehingga hati ini dicerahkan oleh hikmah. Hidup yang sementara ini agar diisi dengan hal-hal yang bermakna.
Jika kita yang diciptakan ini tidak kembali kepada Allah, lalu mau ke mana?
Beruntung seberuntungnya saya, pengalaman dijamah dan dikasihi Allah, membuat saya sadar diri. Karena selalu diingatkan-Nya.
Sesungguhnya, kita diciptakan Allah untuk bahagia. Hidup adalah ungkapan syukur kepada-Nya. Tanpa rasa bersyukur dan terima kasih pada Allah, hidup ini makin berat, kelam, pahit, dan menderita.
Hidup ini pilihan, ketika kita berani untuk menanggapi pilihan Allah.
Sesungguhnya yang dipilihkan dan dianugerahkan Allah kepada kita itu baik adanya, dan agar kita bahagia.
Sepahit, sekelam, dan seberat apa pun pengalaman hidup ini, cobalah disyukuri. Kita tidak harus menolak, protes, mengeluh, dan berontak untuk menyalahkan situasi dan kondisi. Tapi semua itu harus disyukuri sebagai anugerah dan rencana Allah agar iman kita makin dewasa.
Kita diajak belajar, dan terus belajar makin rendah hati untuk melihat maksud dan tujuan dari peristiwa itu. Sehingga iman kita tidak goyah, tapi mengalar kuat dan membumi.
Dengan berorientasi, bahwa hidup untuk bahagia. Maka peristiwa apa pun yang terjadi itu tidak mampu membuat hati ini terluka. Karena kita melihat hikmat Allah yang luar biasa.
Rendah hati agar kita taat dan setia pada kehendak Allah. Hidup untuk bahagia.
…
Mas Redjo

