“Tuhan memanggil kita untuk percaya kepada-Nya dan ikut ke mana Ia menuntun.”
Sabda Allah hari ini mengajak kami melangkah dalam tiga gerak batin yang kudus: melihat, mempersembahkan, dan mengikuti.
Dari Hana, kami belajar untuk jadi pribadi yang jujur untuk berserah pada Allah dan mengandalkan-Nya. Ia seorang perempuan yang sedih, disalahpahami, dan menanggung beban berat dengan diam. Tapi ia tidak menjauh dari-Nya. Ia membawa kepedihan hatinya ke hadapan-Nya dengan jujur. Orang lain mungkin tidak mengerti, tapi Ia melihat hatinya. Ketika Ia melihat, Ia juga memberi kekuatan. Hana mengajarkan pada kami yang harus dilakukan: menyerahkan kepada Allah, bahkan hal yang paling kami rindukan. Iman tidak dimulai dengan kejelasan, tapi dengan kepercayaan.
Mazmur hari ini jadi seruan hati kami: “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?” Bersyukur itu bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan lewat persembahan hidup kita. Pemazmur mengingatkan, bahwa mengangkat piala keselamatan berarti juga siap menepati janji, berjalan setia, dan membiarkan syukur itu menjelma dalam ketaatan. Allah memberi kami kekuatan, bukan hanya untuk mengenali kasih-Nya, melainkan juga untuk menjalaninya.
Di tepi Danau Galilea, Putra-Nya memanggil empat orang nelayan: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Mereka bukanlah orang yang sedang mencari jalan baru. Mereka setia dengan pekerjaannya. Namun Yesus melihat mereka, dan tatapan-Nya mengubah segalanya.
“Mari, ikutlah Aku!”
Panggilan itu tanpa disertai penjelasan, hanya undangan. Mereka belum sepenuhnya mengerti artinya jadi penjala manusia, tapi mereka meninggalkan jalanya. Mereka meninggalkan yang biasa, dan melangkah dalam iman. Seperti Hana, mereka mempercayakan masa depan mereka kepada-Nya. Seperti Pemazmur, mereka mulai menjalani hidup penuh syukur melalui penyerahan diri.
Tuhan Yesus, mereka jadi nelayan besar bukan karena hasil tangkapan mereka, melainkan karena mereka rela ditangkap oleh Kerahiman-Mu. Hari demi hari Engkau membentuk mereka dari dekat: mengajar mereka berdoa, mengasihi yang tersisih, menyembuhkan yang terluka, dan memberi tanpa pamrih. Sehingga yang awalnya samar-samar itu akhirnya mereka hidupi sepenuhnya.
Bapa, hari ini Engkau juga bertanya kepada kami: “Apa balas-mu kepada Tuhan atas segala kebaikan-Nya?”
Bukalah mata hati kami agar kami melihat yang perlu kami lakukan hari ini. Kuatkan langkah kami agar kami mampu melakukan yang telah kami lihat. Pujian syukur kami tidak berhenti pada kata-kata, tapi jadi hidup yang taat, penuh kasih, dan setia. Semoga hidup kami jadi persembahan yang memuliakan nama-Mu.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

