“Perbuatan jujur dan benar yang kita lakukan pada orang lain itu akan kembali kepada keluarga sendiri.” -Mas Redjo
…
Tidak untuk disepelekan, tapi untuk disikapi dengan hati-hati agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari.
Hal itu saya tekankan dengan hati-hati kepada keluarga, yakni untuk bersikap jujur dan benar agar tidak merugikan orang lain. Perbuatan curang itu membuat hidup kita jadi was-was atau takut, tapi orang jujur dilimpahi hidup tentram dan damai.
Budaya hidup jujur dan benar itu harus dibangun sejak dini agar anak-anak bertumbuh jadi pribadi yang tidak merugikan orang lain, tapi pribadi yang peduli sesama, mandiri, dan bertanggung jawab.
Di dalam dunia kerja, anak dididik jujur dan benar agar tidak bermain pat gulipat untuk memperkaya diri. Tapi transparan dan jelas. Jika ada uang kaget datang, agar kita berani bertanya peruntukkannya dan tidak dari hasil korupsi. Konsekuensinya jelas, jika ketahuan bakal ditangkap. Apa akibat terburuk, jika uang haram itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Oleh karena itu, jika ingin jadi orang kaya, ya lebih baik itu dengan berdagang.
Begitu pula dalam dunia dagang, kita dituntut jujur pada pelanggan. Tidak asal menghalalkan segala cara curang demi memperoleh untung besar. Misal, menggunakan pewarna tekstil untuk makanan, bahan beracun, formalin, dan sebagainya.
Coba berpikir jernih dan bertanya pada diri sendiri, jika akibat buruk dan sakit parah itu terjadi pada anggota keluarga kita sendiri. Bagaimana pertanggung jawaban kita, baik di bumi maupun di akherat?
Dengan berani bersikap jujur dan benar dalam hidup keseharian, sejatinya kita mengalahkan godaan dan jerat si Jahat. Hidup tenang, damai, dan sejahtera
Berani bersikap jujur dan benar itu menyehatkan jiwa, hidup berkenan bagi Tuhan!
…
Mas Redjo

