Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Vivere Militare Est”
(Adagium Latin)
Gratia Dei
Orang-orang biasanya dengan sangat lantang berseru, bahwa sungguh, hidup ini adalah sebuah rahmat dan karunia dari Tuhan. Rahmat itu diberikan-Nya secara gratis alias cuma-cuma pula (gratia Dei).
Sang arifin sempat pula berujar, bahwa hidup yang tidak diperjuangkan adalah sebuah keniscayaan, alias hidup yang disia-siakan.”
Vivere Militare Est
“Hidup itu adalah suatu perjuangan,” demikian sebuah adagium Latin yang sungguh bermakna bagi kehidupan manusia.
Dialog Imajinatif
Dialog antara Lantai Marmer (LM) dan Patung Batu Pualam (PBP)
Di suatu hari, terjadi sebuah dialog sangat seru tentang sebuah keprihatinan hidup di antara Lantai Marmer (LM) dan Patung Batu Pualam (PBP).
“Sungguh betapa beruntung dan berharganya engkau di mata manusia. Keadaan ini jauh berbeda dengan perlakuan manusia terhadap saya,” demikian keluhan keprihatinan yang terlontar spontan dari mulut LM.
“Apa maksud keluhanmu? Tahukah kamu, bahwa aku ini dibentuk dan diproses, justru bukan atas kehendakku. Tahukah kamu, bahwa aku dipahat lewat tajamnya mata pahat, digergaji dengan gigi gergaji nan kasar, dan bahkan dipotong dengan ujung tajam besi yang dipanaskan lewat bara api?” balas PBP.
“Juga setahuku, kamu cuma dipotong dan diukur sesuai dengan tempat tumit kakiku berpijak dan sesudah itu selesai, bukan?” lanjut PBP.
“Sedangkan aku, masih lagi diminyaki, dicat dengan aneka warna justru tanpa sepengetahuanku,” keluh PBP.
“Tapi hal yang justru membuatku kian cemburu padamu, koq mengapa kamu justru dijadikan sebagai pusat perhatian manusia. Kamu akan disentuh, dikagumi lewat decak kagum. Sedangkan aku, tidak dipedulikan, dan bahkan dijadikan sebagai pijakan untuk diinjak-injak di saat manusia sedang mengagumimu?” demikian deretan litani berupa keluhan dari LM.
(Dari berbagai Sumber)
Anda dan Saya pun laksana LM dan PBP.
Sebetulnya hal yang dimaksudkan dari alur dan makna dialog yang bernada kekecewaan antara LM dan PBP adalah: sebuah reaksi manusiawi antara rasa kecewa dan cemburu yang sering juga terjadi di antara kita di dalam kehidupan riil. Di balik itu terselip juga unsur perbedaan karakter di antara kita selaku manusia.
Makna Simbolik dan Realistik
Juga sungguh nyata, bahwa di balik kisah dialogis simbolik ini adalah hal realistik yang mau diekspresikan, “bagaimana idealnya manusia sejati itu, jika ia mau berjuang dan dibentuk agar hidupnya jadi kian bermakna.”
Jika fakta dan idealisme hidup ini berprinsip, bahwa hidup yang sungguh bermakna itu adalah hidup yang perlu diperjuangkan, maka sungguh tidak lain dan tak bukan, bahwa manusia itu mau tak mau, ia harus berjuang di dalam arena kehidupan ini.
Konklusi
Bukankah hanya lewat sebuah proses perjuangan sejati, maka seorang manusia baru sungguh merasakan dan menyadari akan makna dan arti dari hidup ini.
“Selamat dan teruslah berjuang, karena Anda pun belum terlambat!”
Kediri, 2 Mei 2025

