Jangan pernah bilang, kesempatan itu datang sekali. Kesempatan itu anugerah Allah, ibarat tarikan nafas kita. Datangnya terus berulang. Hidup adalah kesempatan agar kita tidak menunda-nunda pekerjaan dan membuang waktu secara percuma.
Kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas, hal-hal yang baik dan positif. Untuk mengisi dan memaknai hidup kita agar berkenan bagi Tuhan.
Dengan bersyukur kepada Tuhan, kita membuka pintu hati, mohon agar Tuhan sudi berkarya dalam hidup kita. Dan kita dimampukan mengeksplorasi bakat untuk pengembangan diri.
Hidup itu untuk memberi, sebagaimana Tuhan lebih dulu memberi kepada kita. Tanpa harus menunggu menjadi orang kaya atau hebat terlebih dulu.
Kita berbagi yang didasari oleh jiwa peduli dan empati. Berbagi dengan yang kita punyai. Lewat sikap, berkata-kata baik, ringan tangan, mendoakan, dan sebagainya.
Melakukan hal-hal yang kecil, tapi dengan cinta yang besar.
Ketika hidup berorientasi untuk memberi, berarti kita tidak menyia-nyiakan hidup itu sendiri. Hidup untuk bertumbuh-kembang dan berbuah.
Hidup yang dijalani tanpa beban itu ikhlas. Jiwa ini tidak mudah mudah terluka, kendati kebaikan kita tidak diterima, ditanggapi, atau bahkan tidak dihargai. Semangat berkorban yang didasari oleh cinta: untuk mengasihi sesama.
Prinsipnya, berikan yang terbaik untuk orang lain agar kita memperoleh yang terbaik pula dari diri sendiri. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

