Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah koper telah menyimpan rapi aneka kebutuhan dirimu.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
| Red-Joss.com | Lewat tulisan reflektif ini, kita diajak untuk “belajar dan mencermati, apa makna sejati dari hidup kita yang dianalogikan dengan beratnya isi sebuah koper.”
Sebuah koper pertama-tama berfaedah, karena mampu menyimpan aneka kebutuhan hidup manusia.
Apa saja yang biasa kita simpan di dalam koper, teristimewa di saat kita mau bepergian?
Di dalamnya akan tersimpan rapi antara lain: pakaian, obat-obatan, dokumen penting, perhiasan, dan uang.
Di dalam lapisan-lapisan koper itu, hampir semua kebutuhan perjalanan kita telah tersimpan rapi.
Demikian pula alur dan kebutuhan hidup kita tersimpan, tersusun rapi di dalam ingatan serta program hidup kita.
Bukankah hidup ini ibarat sebuah perjalanan?
Sesungguhnya, bagaimana dampaknya, jika ternyata koper perjalanan kita terasa sangat berat, sehingga sungguh mengganggu laju dan lancarnya langkah perjalanan kita?
Berhenti sejenak dan berefleksi adalah langkah bijak, mengapa, koper perjalanan kita terasa sangat berat?
Apakah kita menemukan faktor penyebabnya? Kita membawa banyak barang? Apakah barang itu sungguh dibutuhkan atau sekadar untuk memuaskan dahaga suka pamer?
Sungguh dan ternyata sangat sering di dalam perjalanan hidup ini, kita telah menyiksa diri, dan bahkan perlahan mematikan spirit hidup kita, karena terbebani dengan sesuatu yang tidak kita butuhkan.
Apakah di dalam hidup ini, kita telah mengumpulkan barang dan aneka gengsi yang sesungguhnya tidak kita butuhkan?
Jika kita hidup agar dipuji dan disanjung sebagai hartawan, maka kita hanyalah seekor burung beo latah.
Jika kita hidup agar dihormati dan ditakuti sesama, maka kita hanyalah seekor harimau ompong.
Jika kita hidup agar disukai sesama karena dianggap baik dan ramah, berarti kita telah memasang topeng kepalsuan di wajah kita.
Sekali lagi, kita perlu berefleksi, dan rela meninggalkan apa saja yang ternyata jadi beban perjalanan hidup ini.
Secara filosofis dan fakta, bukankah di saat kita turun dari rahim Ibu, kita telanjang?
Di saat kita kembali ke rahim Ibu bumi, bukankah kita hanya dililiti seutas kafan fana?
…
Kediri,ย 6ย Aprilย 2024

