| Red-Joss.com | Selamat jalan Piere FX Gambur CICM, perantau rohani alias misionaris yang pulang dari Kongo balik ke Bapak abadinya di Surga. Baru 3 bulan ditahbis, oleh serangan meningitis beliau pulang. RIP sahabat muda. Saya tidak kenal, tapi menghormatimu. “Hidupmu sungguh merantau.”
Yes, bro. Hidup ini ibarat merantau, kelak kita bisa kembali dengan membawa banyak sukacita, bukan harta. Syaratnya setia memelihara firman-Nya.
Memelihara Firman dengan tidak urik: “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan Allahmu, yang kusampaikan kepadamu” (Ulangan 4:2).
Biasanya orang yang akan pergi merantau diberi nasihat oleh keluarga/orangtuanya agar berhati-hati, pintar-pintar menjaga diri atau menyesuaikan diri. Nasihat ini merupakan suatu bekal bagi seseorang yang akan pergi merantau dan umumnya seseorang yang memegang teguh nasihat baik tersebut akan mengalami kesuksesan di tanah perantauannya.
Demikian juga Musa memberikan nasihat kepada bangsa Israel agar mereka tetap taat dan tunduk kepada semua hukum Allah.
Musa merupakan seorang Nabi yang memiliki pengalaman hidup dengan Allah yang luar biasa. Ia memilki hati yang sangat lembut, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi (Ulangan 12: 3). Ia juga menasihatkan kepada bangsa Isarel untuk memelihara hukum Allah, yakni tidak menambahi dan mengurangi. Larangan ini untuk mewanti-wanti orang Israel menghargai firman Tuhan yang disampaikan. Hal ini penting agar jangan ada bagian yang ditonjolkan secara berat sebelah, menurut selera manusia, melainkan sebaliknya, selera manusia jadi bentuk sesuai dengan apa yang tercantum dalam hukum Allah tersebut.
Suatu tugas panggilan kita bersama di masa sekarang ini adalah jadi umat yang taat akan hukum/firman Allah. Sama halnya apa yang disampaikan dalam Amsal 1: 8-9, hendaknya kita seperti seorang anak yang mendengarkan pengajaran orangtuanya. Sebab pengajaran itu, bila dilakukan akan membawa kebahagaiaan. Kesetiaan kita terhadap hukum Tuhan akan terlihat, ketika karakter kita sesuai dengan hukum Tuhan bukan sebaliknya. Karena mereka yang berbahagia adalah yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya (Luk 11: 27- 28). Maka biarlah firman Allah itu tetap menjadi firman yang senantiasa menuntun kita untuk menemukan kebahagiaan. Tidak hanya memilih ayat-ayat yang sesuai dengan selera. Harus dibalik, tetap didengar dan dilaksanakan walau tidak sesuai selera. Misalnya “cungkil mata, potong tangan, … yang membuat jauh dari Allah.” Pasti tidak mudah, tapi seperti Paus Fransiskus… tidak lagi tergoda naik mobil fortuner, cukup sekelas Terryos…, membiarkan diri dicium keningnya oleh Imam besar buah dari keberanian beliau untuk selalu hidup dekat dengan gurunya, yakni Yesus. “Mencuci kaki murid-Nya, membiarkan diri dicium Yudas, rela dihujat, disalib.”
Akhirnya setelah bangkit, Yesus kembali dari perantauan-Nya di dunia ini , balik kerumah Bapa-Nya. Demikian pula Romo Gambur CICM , yang setia memelihara ajakan-Nya selama dirantau, balik ke Labuan Bajo, 10 Oktober kemarin, untuk transit ke rumah abadinya.
Salam sehat.
…
Jlitheng

