“Tidak untuk melihat yang buruk, jelek, atau kesalahan orang lain. Tapi melihat yang baik untuk saling mengasihi itu membahagiakan jiwa.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ketika kecil, saya terbiasa melihat Mbah Putri laku prihatin, berpuasa, dan tengah malam melafalkan doa. Ketika saya bertanya tujuan Mbah Putri menjalani itu, alasannya sederhana agar keluarga besar Mbah dijauhkan dari yang jahat.
Ketika cukup nalar, saya memahami maksud dan tujuan Mbah Putri laku hidup prihatin itu ternyata untuk mengendalikan diri agar kita jadi sabar, tabah, rendah hati, dan ikhlas.
Jadi pribadi sabar itu mengajar kita untuk berani menerima kenyataan pahit dan getirnya hidup ini dengan penuh syukur, karena belas kasih Tuhan. Sekaligus agar kita melihat dan memahami hikmat-Nya. Anugerah Tuhan yang luar biasa.
Pribadi tabah itu tidak goyah, meski menghadapi benturan hidup. Jika ditawari kenikmatan duniawi, baik berupa tahta, wanita, dan harta itu tidak silau dan serta merta meruntuhkan iman. Karena iman yang teguh itu benteng jiwa nan kokoh, dibangun di atas batu karang Petrus (Matius 7: 24).
Orang yang rendah hati itu dikasihi Tuhan. Kita dapat meneladani Bunda Maria, Yohanes Pembaptis yang menyiapkan jalan Tuhan, juga dari pelayan kemanusiaan Bapa Paus Fransiskus. Mereka adalah pribadi-pribadi luar biasa, yang taat dan setia pada kehendak Tuhan.
Dengan miliki semangat rendah hati, kita mengalahkan godaan si jahat yang sombong dan egois itu. Karena tanpa belas kasih Tuhan, kita ini bukan siapa-siapa.
Hidup ikhlas adalah persembahan kasih kita pada sesama sebagai ungkapan pujian dan syukur pada Tuhan atas anugerah-Nya. Hidup untuk memberi, karena Tuhan murah hati (Korintus 9: 11).
Mengasihi sesama dengan ikhlas hati itu tanpa gesekan, konflik, dan permusuhan. Tapi hidup dalam keselarasan dan harmoni.
Membenci perbuatan jahat dengan berpegang pada yang baik agar kita hidup saling menghargai, menghormati, dan mengasihi. Karena sesungguhnya kita semua adalah satu keluarga besar umat Tuhan.
…
Mas Redjo

