“I have decided to live by my faith not by my feeling.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Perasaan itu kadang lebih kuat dari iman. Meski tidak dipungkiri, bahwa iman itu butuh dirasakan. Namun kita kadang dikuasai oleh perasaan, akhirnya jadi baperan. Karena impian, harapan dan doa yang tidak kunjung terjawab, kita putus asa dan tidak mau percaya. Mujizat tidak dialami, jadi ‘insecure’, marah, kecewa dan lebih parah lagi Tuhan yang disalahkan dan dihujat.
Hidup memang antara yang nyata terlihat dan misteri yang kadang tak terselami. Hidup kita sering berfokus pada hal yang nyata dan terlihat fisik. Kesembuhan, kemapanan, keharmonisan, kekayaan, kebebasan, keadilan, kesejahteraan. Padahal sudah banyak anugerah yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Tapi sering kurang disadari, apalagi kita syukuri.
Jalani hari demi hari dengan iman, bukan dengan perasaan. Iman membuka mata hati untuk melihat yang misteri. Bahkan saat hidup di luar kendali, hati tetap bisa mensyukuri dan menjalani hidup dengan bahagia. Meski ada kekecewaan saat doa tak kunjung dijawab, kita tetap sabar menunggu keajaiban.
Sesulit apapun hidup kita saat ini, itu tidak boleh menghentikan kita untuk mengucapkab terima kasih pada Tuhan. Tidak peduli betapa berat cobaan dan ujian saat ini, tidak menghentikan kita untuk jadi sumber berkat bagi sesama.
Tetap bersabar menunggu jawaban dan keajaiban dari Tuhan. Kita hidup dengan iman, tidak dengan perasaan. Setialah dalam doa, karena mujizat itu nyata.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

