“Ketika kerahiman dihidupi, cahaya tidak mungkin disembunyikan.”
Yesus menyapa kami dengan identitas dan perutusan. Ia tidak berkata, bahwa kami harus jadi terang dan garam. Ia berkata, “Kamulah garam dunia dan terang dunia.”
Garam itu tidak hidup untuk dirinya sendiri, tapi untuk memberi rasa dan menjaga kehidupan. Terang tidak dinyalakan untuk disembunyikan, tapi untuk mengusir kegelapan.
Allah telah menaruh dalam diri kami terang iman, bukan untuk disimpan demi rasa aman, melainkan untuk dibagikan dalam kasih. Melalui perbuatan baik yang lahir dari kerahiman, terang Injil menembus kegelapan dunia.
Melalui Nabi Yesaya, Allah menyingkapkan, bahwa terang sejati tampak dalam kerahiman: ketika kami berbagi roti dengan yang lapar, menyambut yang tidak mempunyai tempat, dan tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Saat kasih mengambil wujud nyata, terang-Nya merekah seperti fajar.
Mazmur meneguhkan pengharapan kami: bahwa di tengah gelapnya dunia, orang yang hidup dalam kebenaran dan kemurahan hati akan tetap bersinar. Bukan karena kesempurnaan, melainkan karena kesetiaan.
Santo Paulus mengingatkan kami, bahwa kekuatan Injil tidak terletak pada kata-kata indah atau kebijaksanaan manusia, melainkan pada Kristus yang tersalib, yang kuasa-Nya tampak dalam hidup yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah.
Sucikanlah hati kami dengan kerahiman-Mu, ya, Allah. Bebaskan kami dari rasa takut, kenyamanan palsu, dan kompromi yang mengaburkan terang serta menghilangkan daya garam.
Utuslah kami kembali ke dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat kami. Bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk melayani, agar melalui perbuatan baik kami, orang lain mengalami kerahiman-Mu dan memuliakan nama-Mu.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

