Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menjumpai seseorang menganggap orang lain sebagai saudaranya. Padahal mereka tidak mempunyai hubungan darah, tapi mereka dapat hidup berdampingan sebagai saudara: saling mendukung, menghargai, dan mengasihi dengan tulus, bahkan terkadang melebihi keharmonisan dalam keluarga inti mereka.
Dalam Injil, Yesus menganggap kita sebagai saudara dan saudari-Nya sendiri. Kita dimasukkan dalam “Keluarga Yesus.” Tujuannya adalah Yesus ingin memperkenalkan kita sebagai bagian dari kehidupan-Nya.
Yesus berharap agar sebagaimana Dia selalu hidup menurut kehendak Allah, demikian juga kita, mau dan mampu melakukan kehendak Allah.
Hari ini, kita sudah bergabung dalam Keluarga Yesus.
Selanjutnya, tunjukkan dalam hidup kita, bahwa kita pantas disebut sebagai anggota Keluarga Yesus.
Pengalaman konkritnya: Kita tetap setia melakukan kehendak Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.
Itulah yang menguji kita untuk meneladani Yesus: taat dan setia melaksanakan kehendak-Nya.
Tuhan memberkati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

