“Hidup berkualitas itu untuk memberi. Tidak untuk yang lain. Karena kita telah diberi Allah secara cuma-cuma.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Karena dianugerahi Allah yang luar biasa, setiap bangun pagi saya selalu mengucap syukur pada-Nya dan mohon dimampukan agar saya jadi pribadi yang senantiasa sadar diri dan rendah hati.
Seperti yang terjadi pagi ini, ketika hujan gerimis saya berangkat ke toko.
Tiba-tiba sebuah motor memotong jalan, hingga nyaris menabrak mobil box yang saya tumpangi. Padahal ada Pak Ogah yang mengatur jalan di perempatan.
Alih-alih minta maaf, pengendara motor yang bersalah itu malah sewot. Karena tidak mau ribut, saya yang meminta maaf, lalu menyuruh sopir untuk jalan kembali. Ternyata banyak orang takut terlambat kerja dan kehujanan, sehingga ngebut dan abai dengan maut.
Ketika tiba di toko, sebuah mobil menghalangi jalan parkir. Ternyata mobil bengkel yang diparkir melintang di halaman toko, padahal jelas terpampang spanduk larangan.
Saya turun, lalu menyebrang untuk meminta tolong pada karyawan bengkel agar memindahkan mobil. Alih-alih memahami salah dan minta maaf, ternyata orang kepercayaan bos bengkel itu malah mengomel. Alasannya hanya sebentar, karena mau pergi lagi.
Saya tersenyum rileks dan tanpa emosi, tapi menikmati.
Sungguh, dengan penguasaan diri yang baik, saya menikmati hidup ini secara rileks, santai, dan sabar. Dengan membiasakan berpikir jernih, tubuh ini merasa nyaman, tenang, dan damai.
Dengan memberikan hal-hal baik dan positif pada sesama berarti kita perlakukan hal yang sama pada diri sendiri.
Dasar acuan saya adalah firman-Nya, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22: 39). Bahkan Yesus mengajarkan pada kita, “Kasihilah musuhmu” (Matius 5: 44).
Hidup berkualitas itu hidup untuk memberi. Mengasihi sesama dan ikhlas hati.
…
Mas Redjo

