Selesai membaca Kitab Suci dan meditasi, aku mendapatkan inspirasi untuk menuntun bagi siapa pun yang mau memahami tentang kebenaran sabda Tuhan dan hidup bagi kemuliaan-Nya. Sebelum meditasi, aku memohon kepada Tuhan, “Yesus, bantu saya lebih memahami jalan-Mu.”
Hatiku saat ini damai dan bahagia. Karena sabda-Nya tidak perlu ditafsirkan dengan ‘jlimet’. Sabda-Nya cukup dibaca, dan dibaca lagi. Lalu, dibawa ke dalam doa dan meditasi. Kemudian, Tuhan memberikan pesannya. Pesan yang diberikan itu, segera untuk ditulis dan dibagikan.
Di sinilah aku menemukan misiku untuk mengambil bagian dengan cara yang sangat kecil dan sederhana, yaitu menuntun bagi setiap pribadi yang mau mengerti dan memahami kebenaran sabda Tuhan dan berani hidup bagi kemuliaan-Nya.
Aku percaya, bahwa setiap pribadi itu rindu untuk disapa Tuhan, tapi ada yang mengalami kesulitan dan bahkan tidak memahami sama sekali. Ada pula yang mengatakan, “yang penting, hidupku dinilai baik oleh orang lain.” Faktanya, hidupnya gelisah. Begitu?
Stop! Hal itu berarti hidup dalam kepura-puraan. Jadi, ambillah langkah baru. Langkah hidup yang menuntun kita untuk mau mengerti dan memahami kebenaran sabda Tuhan. Lalu langkah berikutnya adalah berani hidup untuk kemuliaan Tuhan. Tandanya sangat jelas, yaitu ketika hati ini merasakan ‘ada damai’.
Setelah itu berdoa lagi. Aku ingin digunakan Tuhan lebih jauh untuk menuntun para sahabat atau siapa saja yang mau mengerti tentang kebenaran sabda Tuhan dan berani hidup dalam kemuliaan Tuhan. Sehingga tidak hidup dalam kepura-puraan, tapi hidup dalam keaslian dan bisa setiap hari memandang wajah Allah dengan wajah yang berseri.
Tidak lupa kuucapkan terima kasih untuk doa, dukungan dan kebaikan para sahabat. Aku percaya, panggilan kekudusan itu terbuka lebar jalannya.
Yuk, kita lewati melalui panggilan hidup kita masing-masing.
Berkah Dalem.
Rm. Petrus Santoso SCJ

