“Selalu ada hal-hal baru setiap hari agar hidup kita jadi baik, dan makin baik lagi.” – Mas Redjo
…
Saatnya berefleksi, bertanya pada diri sendiri.
Bagaimana hubungan kita dengan keluarga, teman, dan usaha atau pekerjaan kita?
Apakah hidup kita stagnan, menuju ke arah yang benar dan makin baik, atau sebaliknya alami kemunduran?
Syarat utama dan penting untuk hidup bertumbuh kembang dan berbuah itu sederhana, yaitu belajar dan belajar rendah hati, bukan yang lain. Hidup itu untuk belajar, bahkan hingga tarikan nafas terakhir.
“Belajar untuk rendah hati,” nasihat Guru Bijak itu terpatri di kedalaman nurani untuk dihidupi agar biji yang ditanam itu bertumbuh subur dan menghasilkan buah berkelimpahan.
“Ketika membujang, penghasilan kita sering kurang untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tapi anehnya, dengan penghasilan yang sebesar itu pula, kita dapat memenuhi kebutuhan keluarga.”
Ternyata, sumber kesalahan itu ada pada kita yang tidak piawai dalam mengelola keuangan. Karena kita dikalahkan oleh keinginan sendiri.
Sadar diri, bahwa anugerah Tuhan selalu baru setiap harinya, saya mulai berbenah untuk perbaiki diri. Karena sesungguhnya hidup adalah untuk belajar!
“Saya harus berani berubah ke arah yang benar dan makin baik!”
Motivasi itu saya terapkan dalam hidup keseharian saya. Karena perubahan yang benar itu datang dan dimulai dari diri sendiri.
Di kantor, waktu saya gunakan dan manfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar hal-hal baru. Kantor, tempat bekerja itu tidak hanya berfungsi sebagai tambang keluarga. Tapi juga tempat mencari pengalaman,
menggembleng diri, dan mandiri. Kita tidak selamanya bekerja pada orang lain, tapi harus mandiri. Jika memungkinkan mempunyai usaha sendiri.
Begitu pula bergaul dengan teman dan warga di lingkungan. Saya belajar untuk memilih, memilah, dan mengambil hal-hal baik dan positif dari mereka untuk pengembangan diri. Sedang hal buruk dan negatif itu dibuang agar tidak meracuni diri sendiri dan orang lain, karena kita bagikan.
Caranya adalah beradaptasi untuk mudah menyesuaikan diri dengan mereka, meski dalam sikon yang berat dan sulit.
Dengan cara berkomunikasi yang baik, kita belajar memahami mereka, dan jadi pribadi yang rendah hati.
“Jika kita ingin jadi yang terbesar itu caranya dengan melayani sesama. Karena Tuhan Yesus datang tidak untuk dilayani, tapi melayani” (Matius 20: 28).
Sejatinya, apa pun perlakuan kita pada sesama adalah cerminan pribadi kita dalam keluarga.
…
Mas Redjo

