| Red-Joss.com | Saya tidak memiliki apapun selain “hati yang rindu” untuk menyapa siapa saja yang telah memberiku tempat sangat teduh untuk melabuhkan jiwa ini di saat aku sudah tidak sekuat dulu lagi. Tempat itu namanya Sanberna, gerejaku.
Sejak 11 Juni 2023, ketika gereja baru di Sanberna disucikan oleh berkat Bapa Kardinal, saya dan istri, tiap ahad jam 06.00 pagi hadir untuk mengikuti undangan Ekaristi. Bersahaja, namun hening dan tenang. Itulah rasa hati dan jiwa kami setiap kali kami berada di dalamnya.
Gedung gereja ini memang besar. Walaupun, ketika dalam homili pemberkatan disebut agung oleh Bapa Kardinal, saya pribadi, sejak pertama berada di dalamnya, 11 Juni 2023, yang lalu, tidak berkesan agung apalagi mewah. Selalu dan selalu, yang saya rasakan adalah bersahajanya.
Bersahaja artinya sebuah pandangan atau sikap yang mencerminkan kesederhanaan, kejujuran, dan ketulusan dalam perilaku, komunikasi, dan sikap seseorang. Orang yang bersahaja tidak berpura-pura, dan hidup dengan sederhana tanpa keinginan berlebihan terhadap barang-barang material atau prestise.
Setiapkali saya berlutut dalam keheningan gereja ini, pikiran dan hati saya selalu tersedot oleh aura suasana kesahajaan gereja ini.
Salib yang sangat besar, yang tergantung di atas altar, yang selalu kutatap lekat-lekat, mengajakku untuk bersikap senantiasa bersahaja, tulus dan sederhana, di hadirat-Nya. Sama sekali tidak menyiratkan kesan megah atau mewah.
Jika Anda, siapa pun juga, ingin merasakan apa yang saya rasakan, berlututlah tidak di bangku terdepan, tetapi bangku kedua sebelum terakhir.
Tulisan sangat sederhana ini adalah ungkapan terdalam hatiku. Saya tidak lagi mau menunda untuk dengab segera menyatakan betapa sangat beruntung diri ini (semoga lebih banyak lagi), karena pada akhirnya dapat berlutut di bangku gereja (sendiri). Tidak lagi ‘uyang-uyung’ ke sana ke mari. Sudah cukuplah bagiku.
Harapan sangat panjang itu, kini, telah menjadi nyata, dan mimpi itu telah lahir – hadir menyapa dan mengundang setiap pencinta Sanberna untuk kembali dan menikmati kebersahajaan iman bersama.
Saya tidak memiliki apa pun selain hati ini, hati yang ingin menyapa siapa saja yang telah dengan caranya sendiri-sendiri memberiku tempat sangat teduh untuk melabuhkan jiwaku di saat aku sudah tidak sekuat dulu lagi.
Ada deretan sangat panjang yang kepada mereka saya ingin menatap wajahnya dan berjabat: “Romo parokiku, yang dulu dan sekarang, Romo rekan, semua pejuang gereja kini dan yang sudah tiada, PPRI dari masa ke masa, PGDP dari masa ke masa, pengamen abadi yang tak lelah bernyanyi, Suster Sang Timur yang lama pernah memberi tumpangan, Pondok Lestari juga warga Metro 1 yang rela berbagi ruang, dan siapa pun umat Sanberna.
Doa untuk mereka, pencinta Sanberna yang tak lelah oleh asa dan usia :
Kusaksikan sosok-sosok abdi itu,
tabah melangkah,
mendekap Salib di dada,
tak ada rintih lirih pun,
Sepi dari keluh dan serapah
tak lagi sebutir pun keringat
menetes dari tubuh lunglai
namun bara jiwanya itu
menembus bola matanya,
seakan berteriak: “inilah aku, mengabdi bersama-Mu.”
Salam sehat selalu.
…
Jlitheng

