| Red-Joss.com | Menurut Keller, dalam bukunya “The Freedom of Self forgetfulness” untuk bisa mengalami diri seperti janda miskin itu, kita harus mengalami transformasi dengan ‘to become truly human so that we might truly God’. Untuk dapat menjadi manusia yang berkenan di mata Tuhan, kita harus memiliki sikap humble and ‘self-forgetfilness’, rendah hati dan menyangkal diri.
Ada 4 aspek yang harus dilalui, yang pertama tentang kekosongan diri. Kita harus rajin merawat diri agar tidak terpenjara menjadi sosok yang seolah-olah baik, rendah hati, beriman, empati, seperti diilustrasikan dalam kontras antara tokoh agama dan farisi dengan janda miskin itu.
Untuk menguji diri, apa kita ini sungguh pribadi humble dan ‘self-forgetfulness’, ada model test pribadi, saya lihat di buku “Humility: the Joy of Self-forgetfulness” tulisan Gavin Ortlund, seperti berikut ini:
“If you are in a position of authority, you will become either a servant or a bully. Your authority will be experienced by others as either freedom or oppression, depending on whether it is marked by humility.” Kurang lebih artinya begini: ketika Anda dalam posisi berkuasa, Anda akan tampil melayani atau manipulasi. Akan dirasakan oleh orang lain, apakah sebagai yang membebaskan atau menekan. Kuncinya ada humility itu.
1 Desember, hari pertama advent ini sangat pas untuk tengok diri dalam-dalam, sudahkan kita memiliki hati humble seorang janda miskin itu atau belum.
Waktu yang sangat pas untuk saling membantu, agar kita layak memiliki hati sekelas palungan untuk tempat bayi Yesus berbaring.
Salam sehat ‘and joy to the world’.
…
Jlitheng.

