Kita bisa merasakan dari yang dilihat mata.
Kita bisa merasakan yang didengarkan telinga.
Kita bisa merasakan yang dikatakan oleh lidah dan mulut.
Kita juga bisa merasakan yang menyentuh kulit tubuh ini.
Hati yang kita miliki itu memang ‘peka’ dan tajam.
Hati kita itu harus senantiasa di-‘asah, asih, dan asuh’, supaya hati ini makin tajam untuk mengasihi, mengampuni, dan melayani sesama.
Mari kita senantiasa bersyukur, karena di hati ini tidak ada benci, kemarahan, dan iri hati. Tapi hati yang makin peka, peduli, dan
mengasihi.
Hidup kita telah dirancang oleh Tuhan dengan amat baik. Syukuri, jalani, dan nikmati prosesnya. Kita dibuat terkagum-kagum dan takjub atas mukjizat-Nya!
Rm Petrus Santoso SCJ

